Memuat...

Foto Tahanan Palestina yang Diikat Beredar, Batalion 'Israel' Kembali Jadi Sorotan

Zarah Amala
Kamis, 2 Juli 2026 / 17 Muharam 1448 10:02
Foto Tahanan Palestina yang Diikat Beredar, Batalion 'Israel' Kembali Jadi Sorotan
Foto seorang tahanan Palestina yang beredar luas di media sosial (kiri), Josef Benamou, anggota Batalion Netzah Yehuda dari Brigade Kfir (kanan)(media sosial)

GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah foto yang memperlihatkan seorang tahanan Palestina dalam kondisi terikat dan mata tertutup dengan pose yang merendahkan martabat beredar luas di media sosial, memicu kecaman keras. Foto tersebut diunggah oleh seorang tentara 'Israel' yang diidentifikasi bernama Josef Benamou, anggota Batalion Netzah Yehuda dari Brigade Kfir.

Foto tersebut memperlihatkan tahanan Palestina tersebut berada dalam kondisi telanjang dan dibiarkan telungkup dengan tangan diikat ke belakang, disertai teks dalam bahasa Ibrani yang bertuliskan "selamat pagi". Meski Josef Benamou segera menghapus foto tersebut dan menyunting detail identitas di akun media sosialnya setelah foto itu menjadi viral, bukti gambar tersebut telah diarsipkan oleh berbagai pihak, termasuk akun media sosial @tamerqdh yang mengaitkan tindakan tersebut dengan tentara dari Batalion Netzah Yehuda, bagian dari Brigade Kfir 'Israel' yang beroperasi di Jalur Gaza.

Meski identitas tahanan belum diketahui, insiden tersebut diyakini terjadi di wilayah utara Gaza.

Kelompok advokasi tahanan Palestina, Palestinian Prisoners’ Society (PPS), menyatakan bahwa insiden ini bukanlah kejadian terisolasi, melainkan bagian dari pola dehumanisasi sistematis terhadap tahanan Palestina yang meningkat tajam sejak Oktober 2023.

"Gambar ini mencerminkan impunitas yang dinikmati pasukan Israel dalam melakukan kejahatan terhadap tahanan," tegas PPS dalam pernyataan resminya. Mereka mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan guna menjamin akuntabilitas atas pelanggaran yang terus berlangsung.

Rekam Jejak Batalion Netzah Yehuda

Batalion Netzah Yehuda merupakan unit khusus yang terdiri dari pria Yahudi ultra-Ortodoks. Unit ini memiliki rekam jejak kontroversial terkait pelanggaran hak asasi manusia. Kelompok Democracy for the Arab World Now (DAWN) menuduh batalion tersebut melakukan berbagai kekejaman, termasuk penyiksaan, penyerangan fisik, hingga kekerasan seksual terhadap warga sipil yang tidak bersenjata.

Salah satu kasus paling menonjol adalah kematian Omar Assad (78), warga Palestina-Amerika, pada Januari 2022 setelah ditahan oleh tentara unit ini. Sebelumnya, pada Maret tahun ini, batalion tersebut juga sempat diskors sementara dari operasi di Tepi Barat setelah menyerbu dan menahan kru berita CNN.

Insiden ini terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer 'Israel' di Gaza, meskipun terdapat rencana gencatan senjata yang mensyaratkan penarikan penuh pasukan 'Israel'. Investigasi Al Jazeera menggunakan citra satelit menunjukkan bahwa pasukan Israel justru memperluas kendali mereka di Gaza utara, mencakup sekitar 54,7 persen wilayah tersebut.

PPS mencatat lonjakan penangkapan dan penghilangan paksa di wilayah yang dikuasai Israel. Berdasarkan kesaksian yang didokumentasikan, para tahanan sering mengalami penyiksaan, kelaparan, pengabaian medis, dan kekerasan seksual di fasilitas penahanan 'Israel'. Sejak 10 Oktober 2025, tercatat lebih dari 1.050 warga Palestina tewas akibat operasi militer dan pengeboman yang terus berlangsung meski kesepakatan gencatan senjata telah diteken. (zarahamala/arrahmah.id)