Memuat...

Ledakan Granat Dekat Sekolah Komunitas Syiah Hazara di Kabul, 42 Anak Terluka

Hanoum
Rabu, 19 Agustus 2026 / 7 Rabiulawal 1448 03:53
Ledakan Granat Dekat Sekolah Komunitas Syiah Hazara di Kabul, 42 Anak Terluka
Tangkapan layar. [Foto: Amu TV]

KABUL (Arrahmah.id) -- Sebuah ledakan granat di dekat kompleks sekolah di kawasan Dasht-e-Barchi, Kabul, Afghanistan, melukai sedikitnya 42 anak berusia 9 hingga 14 tahun, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ledakan tersebut terjadi di kawasan yang mayoritas dihuni komunitas Syiah Hazara, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi sasaran kekerasan sektarian.

Dilansir AP (18/8/2026), insiden itu terjadi di Dasht-e-Barchi, Kabul, pada Senin (17/8) waktu setempat. Sasaran dan motif pelaku belum diketahui secara pasti. Polisi Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA) tengah menyelidiki ledakan tersebut, sementara belum ada kelompok yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Laporan media Afghanistan menyebut jumlah korban luka dapat mencapai sekitar 50 orang, tetapi PBB telah memverifikasi sedikitnya 42 anak terluka.

Kawasan Dasht-e-Barchi merupakan salah satu wilayah Kabul yang memiliki populasi Hazara dalam jumlah besar dan mayoritas beragama Syiah. Wilayah tersebut sebelumnya juga menjadi lokasi sejumlah serangan mematikan terhadap sekolah dan pusat pendidikan. Karena itu, ledakan terbaru kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan anak-anak dan kelompok minoritas di Afghanistan.

Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) mengecam insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan menyeluruh. Richard Bennett, Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Afghanistan, juga mengecam serangan itu dan meminta pihak berwenang memastikan pelakunya dibawa ke pengadilan. Menurut PBB, serangan terhadap anak-anak dan fasilitas pendidikan sangat mengkhawatirkan karena sistem pendidikan Afghanistan sendiri masih menghadapi tekanan berat.

“Serangan terhadap anak-anak dan pendidikan tidak dapat diterima. Anak-anak harus dilindungi dan sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk belajar,” demikian inti kecaman PBB terhadap serangan tersebut, yang kembali menegaskan kewajiban perlindungan anak dalam konflik bersenjata.

Ledakan ini juga terjadi ketika akses pendidikan di Afghanistan masih menghadapi persoalan besar. PBB mencatat bahwa anak perempuan Afghanistan dilarang melanjutkan pendidikan formal setelah kelas enam di bawah kebijakan IIA. Pada saat yang sama, ratusan ribu anak yang kembali dari Pakistan menghadapi kesulitan untuk kembali bersekolah akibat keterbatasan kapasitas dan sumber daya pendidikan.

Dasht-e-Barchi sendiri memiliki sejarah panjang serangan terhadap komunitas Syiah Hazara. Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada 2021 ketika ledakan di sekitar sekolah perempuan di kawasan tersebut menewaskan dan melukai banyak siswa. Serangkaian serangan sebelumnya menunjukkan bahwa pusat pendidikan di wilayah itu tetap menghadapi risiko keamanan yang serius.

Hingga laporan ini disusun, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas ledakan terbaru, sementara penyelidikan aparat Afghanistan masih berlangsung. PBB mendesak agar pelaku dan pihak yang berada di balik serangan tersebut diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban. (hanoum/arrahmah.id)