MANGGARAI (Arrahmah.id) - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menyisakan duka mendalam bagi masyarakat di Pulau Flores.
Hingga Selasa (18/8/2026), lebih dari 1.000 warga terdampak masih bertahan di sejumlah posko pengungsian setelah rumah mereka mengalami kerusakan parah hingga hancur.
Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah.
Pemerintah daerah telah mendirikan tiga posko pengungsian utama untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.
Salah satu titik konsentrasi pengungsi berada di Posko Borongkolong, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai.
Di tengah situasi tersebut, trauma mendalam masih dirasakan para pengungsi. Salah satunya Sudarti, korban gempa yang menceritakan detik-detik mencekam ketika guncangan terjadi.
Sudarti mengatakan, dirinya bersama keluarga masih berada di dalam rumah saat gempa tiba-tiba mengguncang dengan hebat.
Mereka bahkan hampir tidak sempat menyelamatkan diri karena bangunan rumah langsung runtuh dan menimpa mereka.
“Pas kejadian, kami masih di dalam rumah. Baru mau siap-siap keluar, sudah berdiri semua bertiga, tiba-tiba reruntuhan sudah besar. Kami tidak sempat keluar, sudah ditindih (bangunan). Rumah sudah roboh,” ujar Sudarti, dikutip dari tayangan Zona Bisnis Metro TV, Selasa (18/8/2026).
Guncangan tersebut membuat rumah Sudarti hancur dan rata dengan tanah. Kondisinya kini tidak memungkinkan untuk kembali ditempati.
“Kondisi rumah hancur, rata. Sudah tidak layak digunakan lagi,” imbuhnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pengungsi mengalami luka-luka, baik ringan maupun berat. Sebagian korban telah mendapatkan perawatan medis di posko pengungsian.
Sementara itu, korban yang mengalami luka serius telah dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kondisi pengungsian juga masih menjadi perhatian karena warga harus bertahan di tengah keterbatasan tempat tinggal setelah rumah mereka rusak atau roboh akibat gempa.
Distribusi Logistik Berjalan
Untuk kebutuhan dasar, warga mengaku distribusi bantuan di posko pengungsian sejauh ini berjalan cukup baik. Para pengungsi mendapatkan makanan tiga kali sehari serta sejumlah kebutuhan pokok, seperti beras, mi instan, dan air minum.
“Alhamdulillah baik semuanya. Kami dapat makan tiga kali sehari, dikasih beras, mi, air minum. Kadang dikasih nasi bungkus, kalau tidak diantar ke sini, kami ambil sendiri di dapur umum,” kata Sudarti.
Ketersediaan kebutuhan pokok tersebut membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masih harus tinggal di posko pengungsian.
Warga Harapkan Percepatan Penanganan
Dengan jumlah pengungsi yang mencapai lebih dari 1.000 orang, koordinasi dan percepatan penanganan dari berbagai pihak menjadi kebutuhan mendesak.
Sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, TNI, Polri, serta lembaga terkait diperlukan untuk memastikan kebutuhan dasar para korban tetap terpenuhi.
Selain bantuan darurat, masyarakat juga berharap pemerintah segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap kerusakan rumah dan fasilitas umum.
Pendataan tersebut diperlukan sebagai dasar untuk menentukan langkah pemulihan dan pembangunan kembali permukiman warga.
Para pengungsi berharap solusi jangka panjang segera disiapkan agar mereka tidak terlalu lama hidup di tenda-tenda darurat.
Bagi warga seperti Sudarti, pemulihan tidak hanya berarti mendapatkan bantuan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memperoleh kembali tempat tinggal yang aman dan layak untuk memulai kehidupan setelah bencana.
(ameera/arrahmah.id)
