Memuat...

Hamas Berduka atas Gugurnya Komandan Al-Qassam Muhammad Audah akibat Serangan Udara 'Israel'

Zarah Amala
Kamis, 28 Mei 2026 / 12 Zulhijah 1447 10:45
Hamas Berduka atas Gugurnya Komandan Al-Qassam Muhammad Audah akibat Serangan Udara 'Israel'
Warga mengiringi pemakaman jenazah Muhammad Audah (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Kelompok Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya salah satu komandan senior Brigade Izzuddin Al-Qassam, Muhammad Audah. Audah dilaporkan gugur bersama istri dan dua anaknya dalam serangan udara 'Israel' yang menyasar sebuah bangunan tempat tinggal di Kota Gaza pada Selasa malam (26/5/2026). Pihak Hamas menyebut Audah sebagai salah satu arsitek utama operasi militer dalam perlawanan Palestina.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menggambarkan Audah, yang juga dikenal dengan nama Abu Amr, sebagai pemimpin besar Al-Qassam. Hamas menegaskan bahwa pembunuhan tersebut merupakan upaya putus asa untuk meruntuhkan keteguhan hati warga Palestina, serta menilai tindakan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hukum internasional.

Hamas menyatakan bahwa Audah telah menjalani rekam jejak perjuangan yang panjang selama lebih dari tiga dekade. Ia disebut sebagai bagian dari generasi awal yang mendirikan unit militer organisasi tersebut dan memiliki peran signifikan dalam berbagai fase operasi hingga peristiwa Banjir Al-Aqsa.

Prosesi Pemakaman Diwarnai Suasana Haru

Pada Rabu (27/5), ratusan warga Palestina di Kota Gaza mengantarkan jenazah Audah beserta keluarganya ke peristirahatan terakhir. Menurut laporan koresponden lapangan, iring-iringan jenazah tiba di Pemakaman Al-Ma'amdani di timur Kota Gaza dengan dihadiri oleh massa yang cukup besar.

Selama prosesi pemakaman, sejumlah perwakilan warga menyampaikan pidato penghormatan dan menegaskan dedikasi para korban terhadap perjuangan di wilayah tersebut. Suasana pelepasan jenazah di jalanan Kota Gaza diwarnai dengan takbir hari raya serta isak tangis dari para pelayat yang hadir.

Di sisi lain, militer 'Israel' mengonfirmasi bahwa mereka telah menargetkan Audah dalam serangan di wilayah utara Jalur Gaza. Pihak militer mengklaim bahwa Audah adalah salah satu tokoh senior yang terlibat dalam perencanaan operasi pada 7 Oktober 2023, dan menyebut tindakan tersebut dilakukan setelah melalui pemantauan intelijen selama beberapa bulan.

https://twitter.com/DropSiteNews/status/2059735708424601638

Profil dan Rekam Jejak Muhammad Audah

Muhammad Audah dikenal sebagai salah satu figur yang dekat dengan mantan Panglima Tertinggi Brigade Al-Qassam, mendiang Muhammad Al-Deif. Ia banyak bergerak di sektor manufaktur militer guna mengembangkan dan meningkatkan kapasitas operasional pasukan.

Selain itu, Abu Amr juga terlibat aktif dalam unit elite pertahanan, khususnya dalam operasi di pos militer dekat Sderot, serta memimpin pertahanan darat di wilayah utara Gaza saat eskalasi militer terjadi pada Juli 2014. Dalam menjalankan strateginya, ia dikenal menerapkan taktik pertahanan dinamis guna menjaga keberlanjutan operasional pasukan.

Setelah periode tersebut, Audah dipercaya memimpin brigade wilayah utara dan memperkenalkan taktik peluncuran roket intensif secara bersamaan untuk menghadapi sistem pertahanan udara lawan. Nama Audah kerap dikaitkan dengan operasi peluncuran puluhan roket ke wilayah Ashkelon pada Mei 2019, yang kemudian menjadi pola baku dalam eskalasi militer tahun 2021.

Sepanjang kariernya, Audah pernah memimpin beberapa pos penting di Al-Qassam, termasuk divisi dukungan logistik, komunikasi, dan persenjataan. Ia juga sempat menjabat sebagai kepala divisi intelijen sebelum akhirnya ditunjuk sebagai wakil panglima tertinggi.

Menyusul perkembangan situasi di lapangan, Audah bersama mendiang Panglima Al-Qassam, Izzuddin Al-Haddad, menyusun kembali strategi pertahanan di wilayah utara Gaza pasca-pemisahan wilayah utara dan selatan. Audah kemudian mengambil alih komando militer tertinggi setelah Al-Haddad dinyatakan gugur.

Peristiwa ini terjadi selang 12 hari setelah gugurnya Izzuddin Al-Haddad dalam serangan udara di Kota Gaza. Insiden-insiden tersebut menjadi sorotan di tengah kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah dinyatakan berlaku sejak Oktober 2025.

Pihak otoritas setempat di Gaza pada Rabu (27/5) menyatakan keprihatinan mereka atas masih terjadinya rentetan serangan pasca-gencatan senjata. Menurut data pemerintah daerah, rangkaian insiden yang terjadi sejak pemberlakuan kesepakatan tersebut telah menyebabkan 910 warga Palestina meninggal dunia dan 2.747 lainnya luka-luka, di samping masih terbatasnya volume bantuan kemaslahatan dan logistik yang dapat memasuki wilayah Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)