GAZA (Arrahmah.id) - Untuk tahun ketiga berturut-turut, ribuan warga Palestina memadati lapangan Al-Saraya di pusat Kota Gaza untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Ibadah ini berlangsung di bawah bayang-bayang situasi kemanusiaan yang dinilai terpukul akibat konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Nur Khalid untuk Al Jazeera, suasana perayaan yang biasanya meriah kini berganti dengan pemandangan warga yang kelelahan akibat dampak pengungsian dan keterbatasan pangan. Meski demikian, sejumlah anak-anak di lokasi tetap berupaya mencari secercah kebahagiaan di tengah situasi yang sulit.
Bagi masyarakat Gaza, pelaksanaan shalat Id kali ini menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan tradisi dan sisa-sisa rutinitas kehidupan normal mereka.
Seorang wanita yang ikut serta dalam jamaah di lapangan Al-Saraya mengungkapkan bahwa Idul Adha tetap menjadi momen penting bagi orang dewasa maupun anak-anak, terlepas dari krisis yang telah dihadapi warga Gaza selama lebih dari tiga tahun terakhir. Di sisi lain, seorang anak yang datang bersama keluarganya menuturkan bagaimana suasana hari raya telah berubah drastis dibandingkan dengan masa sebelum konflik terjadi.
Suasana Lebaran Berubah Menjadi Prosesi Pemakaman
Tidak lama setelah shalat selesai dan warga saling bertukar ucapan selamat yang singkat, suasana di lokasi segera berubah menjadi prosesi pelepasan jenazah. Warga langsung menggelar pemakaman bagi para korban yang gugur akibat serangan udara yang mengenai kawasan pemukiman Al-Rimal di barat Kota Gaza pada Selasa malam (26/5/2026).
Dalam momen emosional tersebut, salah seorang warga yang hadir mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kontrasnya situasi hari raya dengan realita yang mereka hadapi. Para pelayat langsung beralih dari menyimak khotbah Id menuju pelaksanaan shalat jenazah.
Alih-alih mengunjungi rumah kerabat untuk bersilaturahmi, warga beriringan menuju pemakaman untuk mengantarkan para korban ke peristirahatan terakhir. Pemandangan ini mencerminkan realita kontras di Jalur Gaza, di mana momen hari raya dan kedukaan berlangsung secara bersamaan di wilayah tersebut.
Diketahui, serangan udara yang menyasar sebuah bangunan tempat tinggal di lingkungan Al-Rimal tersebut menewaskan komandan Brigade Al-Qassam, Muhammad Audah, bersama istri dan dua anaknya.
Hingga saat ini, dampak dari konflik di Gaza telah menyebabkan lebih dari 72 ribu warga Palestina meninggal dunia dan 172 ribu lainnya luka-luka, dengan tingkat kerusakan infrastruktur di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 90%. Kendati kesepakatan gencatan senjata telah dinyatakan berlaku sejak Oktober tahun lalu, eskalasi di lapangan dilaporkan masih terus terjadi dan terus menambah jumlah korban jiwa. (zarahamala/arrahmah.id)
