Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute utama sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir memicu spekulasi bahwa Teheran dapat menutup selat tersebut sebagai respons terhadap ancaman militer Washington dan sekutunya.
Menurut laporan Nikkei Asia (26/5/2026), pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi bagian dari pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi sejumlah negara Teluk. Sumber yang mengetahui negosiasi itu menyebut Iran meminta jaminan keamanan dan penghentian serangan sebelum membuka kembali jalur pelayaran internasional.
Sumber diplomatik tersebut mengatakan, “Iran akan membuka kembali Selat Hormuz sekitar 30 hari setelah tercapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran.”
Media internasional melaporkan Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab aktif mendorong deeskalasi konflik antara Washington dan Teheran karena khawatir perang terbuka akan menghancurkan stabilitas ekonomi kawasan Teluk. Sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut menunda rencana serangan militer terhadap Iran setelah menerima permintaan dari para pemimpin Teluk.
Harga minyak dunia sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Analis energi memperingatkan gangguan di jalur tersebut dapat memicu krisis energi global karena banyak negara Asia dan Eropa bergantung pada minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Analis keamanan maritim dari International Crisis Group mengatakan, “Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Penutupan total akan berdampak langsung terhadap ekonomi global.”
Meski demikian, hingga kini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Iran maupun Amerika Serikat terkait kesepakatan final penghentian konflik. Pemerintah Iran sebelumnya menegaskan mereka tidak menginginkan perang besar, tetapi siap merespons setiap serangan terhadap wilayahnya.
Ketegangan di kawasan Teluk sendiri terus dipantau dunia internasional karena berpotensi memengaruhi perdagangan global, harga energi, dan stabilitas keamanan Timur Tengah secara keseluruhan. (hanoum/arrahmah.id)