BEIRUT (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' mengintensifkan rentetan serangan udara dan artileri ke sejumlah wilayah di Libanon selatan pada Rabu (27/5/2026). Insiden tersebut dilaporkan menewaskan tiga orang, termasuk seorang prajurit militer Libanon. Di sisi lain, kelompok Hizbullah membalas dengan meluncurkan sejumlah pesawat nirawak (drone) yang menyasar titik berkumpulnya pasukan 'Israel' di wilayah perbatasan.
Pada hari pertama Idul Adha ini, militer 'Israel' dilaporkan melancarkan 44 serangan udara dan tembakan artileri berat ke beberapa titik di Libanon selatan dan timur, termasuk desa-desa di sepanjang perbatasan. Rangkaian serangan tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada puluhan bangunan tempat tinggal dan pertokoan warga.
Eskalasi militer antara kedua belah pihak meningkat signifikan dalam dua hari terakhir menyusul pernyataan Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, yang mengancam akan memperluas operasi guna menekan pergerakan Hizbullah.
Pada Rabu (27/5), militer 'Israel' mengeluarkan perintah evakuasi mendesak bagi warga di Kota Tyre (Sour), Libanon selatan, beserta kamp-kamp pengungsian dan wilayah di sekitarnya. Warga diminta segera mengosongkan tempat tinggal mereka dan bergerak ke arah utara Sungai Zahrani, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari perbatasan.
Langkah ini menjadi perintah evakuasi pertama bagi Kota Tyre sejak kesepakatan gencatan senjata dinyatakan berlaku pada 17 April lalu. Situasi ini terjadi di tengah pergerakan maju pasukan darat 'Israel' yang dilaporkan telah melewati Sungai Litani dan mendekati Kota Nabatiyeh.
Sebelumnya pada Selasa (26/5), rangkaian serangan yang menyasar 152 titik di Libanon selatan dan timur menyebabkan 31 orang tewas dan sedikitnya 40 lainnya luka-luka. Pihak militer 'Israel' dalam keterangannya mengonfirmasi bahwa mereka telah menyerang lebih dari 150 target dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Merespons pergerakan tersebut, Hizbullah mengumumkan telah meluncurkan drone intai dan serang ke posisi berkumpulnya tentara 'Israel' di kawasan Bukit Al-Awaida, Dataran Tinggi Al-Ajal, serta di sekitar wilayah Odeisseh dan Zoutar al-Sharqiya.
Pihak Hizbullah mengklaim telah melepaskan 30 gelombang serangan sepanjang Rabu (27/5) yang menargetkan personel dan armada militer 'Israel'. Dari total tersebut, 17 serangan terkonsentrasi di wilayah Zoutar al-Sharqiya, Provinsi Nabatiyeh. Selain itu, dua serangan dilaporkan menyasar sistem pertahanan udara Iron Dome di wilayah utara 'Israel'.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan respons atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan militer 'Israel', sekaligus upaya untuk menahan laju pergerakan pasukan darat 'Israel' di Libanon selatan.
Sementara itu, pihak militer 'Israel' mengonfirmasi dua prajuritnya mengalami luka-luka di Libanon selatan akibat hantaman rudal antitank di tengah saling balas serangan yang melibatkan roket, artileri, dan pesawat nirawak. (zarahamala/arrahmah.id)
