Memuat...

JNIM Tawarkan Hadiah Rp37 Miliar untuk Tangkap Presiden Mali

Hanoum
Sabtu, 13 Juni 2026 / 28 Zulhijah 1447 04:42
JNIM Tawarkan Hadiah Rp37 Miliar untuk Tangkap Presiden Mali
Tangkapan layar video JNIM. [Foto: X]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), cabang Al Qaeda yang beroperasi di Mali dan kawasan Sahel, mengumumkan hadiah sebesar 2 juta euro atau sekitar Rp37 miliar bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan Presiden Mali, Assimi Goita. Pengumuman itu menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun antara kelompok jihad dan pemerintah militer Mali.

Menurut pernyataan yang beredar melalui saluran-saluran yang digunakan kelompok tersebut pada Kamis (12/6/2026), JNIM menawarkan 2 juta euro untuk informasi mengenai keberadaan Goita.

Dilansir Reuters (12/6), kelompok itu juga menawarkan hadiah masing-masing 1 juta euro untuk informasi yang mengarah kepada Kolonel Lassina Diallo dan Jenderal Malik Dicko, dua pejabat tinggi militer Mali. Dalam pengumumannya, JNIM menyebut pemerintah Mali sebagai entitas yang tidak sah.

Langkah tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah Mali mengumumkan hadiah senilai sekitar 3,5 juta dolar AS bagi informasi yang mengarah pada penangkapan atau kematian pemimpin JNIM, Iyad Ag Ghaly.

JNIM merupakan kelompok jihad yang dibentuk pada 2017 melalui penggabungan beberapa faksi bersenjata yang berafiliasi dengan Al Qaeda di Maghreb Islam. Kelompok yang dipimpin Iyad Ag Ghaly itu telah menjadi salah satu ancaman keamanan terbesar di Mali, Burkina Faso, dan Niger, dengan serangkaian serangan terhadap militer, aparat keamanan, serta fasilitas pemerintah di kawasan Sahel.

“Pemerintah Mali adalah entitas yang tidak sah,” demikian pernyataan JNIM dalam pengumuman hadiah tersebut yang dikutip Reuters.

Pemerintah Mali belum memberikan tanggapan resmi terhadap tawaran hadiah yang diumumkan JNIM. Namun sebelumnya Presiden Assimi Goita menegaskan bahwa situasi keamanan nasional tetap berada di bawah kendali pemerintah meskipun kelompok-kelompok jihad meningkatkan serangan di berbagai wilayah negara itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, militer Mali menghadapi gelombang serangan terkoordinasi yang menargetkan pangkalan militer dan kota-kota strategis di bagian utara maupun tengah negara tersebut.

Mali telah dilanda konflik bersenjata sejak 2012. Setelah dua kudeta yang membawa Assimi Goita ke tampuk kekuasaan pada 2020 dan 2021, pemerintah militer berupaya memperkuat operasi kontra-terorisme. Namun sejumlah kelompok jihad, termasuk JNIM, justru memperluas pengaruh mereka di beberapa wilayah pedesaan dan perbatasan. (hanoum/arrahmah.id)