Memuat...

Jutaan Jamaah Haji Bertahan di Tengah Panas Ekstrem Arafah

Hanoum
Rabu, 27 Mei 2026 / 11 Zulhijah 1447 03:57
Jutaan Jamaah Haji Bertahan di Tengah Panas Ekstrem Arafah
Jamaah haji berdoa di Gunung Arafat, Arab Saudi, yang juga dikenal sebagai Jabal al-Rahma atau Gunung Rahmat, selama puncak ibadah haji. [Foto: Zain Jaafar/AFP]

ARAFAH (Arrahmah.id) --  Jutaan jamaah haji dari berbagai negara memadati Padang Arafah, Arab Saudi, di tengah suhu gurun yang mencapai hampir 44 derajat Celsius pada puncak ibadah haji 2026. Kondisi cuaca ekstrem itu menguji ketahanan fisik para jamaah saat mereka menjalani wukuf, ritual paling penting dalam ibadah haji, di bawah bayang-bayang konflik dan ketegangan Timur Tengah.

Sejak pagi hari, para jamaah mengenakan pakaian ihram putih memenuhi kawasan Padang Arafat untuk berdoa, berzikir, dan memohon ampunan. Tempat tersebut diyakini sebagai lokasi Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhirnya dan menjadi titik spiritual utama dalam ibadah haji.

Menurut otoritas Saudi, seperti dilansir Al Jazeera (26/5/2026), lebih dari 1,5 juta jamaah telah berkumpul di Mina dan Arafah sejak awal pelaksanaan haji tahun ini. Banyak jamaah berjalan kaki di bawah terik matahari sambil membawa payung dan kipas kecil untuk mengurangi dampak panas ekstrem.

“Ini perjalanan seumur hidup kami. Panasnya sangat berat, tetapi kami tetap bersyukur bisa berada di Arafah,” ujar seorang jamaah asal Pakistan.

Pemerintah Arab Saudi mengerahkan ribuan petugas kesehatan dan sistem teknologi modern untuk membantu jamaah menghadapi cuaca panas. Drone digunakan untuk mengirim pasokan medis ke klinik-klinik di Makkah, Mina, dan Arafah secara lebih cepat di tengah kepadatan jamaah.

Selain suhu tinggi, pelaksanaan haji tahun ini juga berlangsung dalam suasana geopolitik yang sensitif akibat konflik Iran, perang Gaza, dan ketegangan regional Timur Tengah. Sejumlah jamaah mengaku mendoakan perdamaian dan keselamatan umat Muslim dunia selama berada di Arafah.

Seorang jamaah asal Indonesia mengatakan, “Kami berdoa agar perang segera berakhir dan umat Islam kembali hidup damai.”

Padang Arafah sendiri merupakan lokasi paling penting dalam rangkaian haji. Dalam tradisi Islam, jamaah wajib melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah. Jika ritual ini tidak dilakukan, maka ibadah hajinya dianggap tidak sah.

Untuk mengurangi risiko korban akibat suhu panas, otoritas Saudi juga memasang kipas kabut air, stasiun pendingin, serta membagikan jutaan botol air minum gratis kepada jamaah. Langkah ini dilakukan setelah gelombang panas pada musim haji tahun-tahun sebelumnya menyebabkan banyak jamaah mengalami kelelahan hingga meninggal dunia.

Setelah matahari terbenam, para jamaah akan bergerak menuju Muzdalifah untuk melanjutkan rangkaian ibadah sebelum menjalani ritual lempar jumrah dan Iduladha di Mina. Meski dihadapkan pada suhu ekstrem dan kondisi global yang tidak menentu, jutaan Muslim tetap memandang haji sebagai perjalanan spiritual terbesar dalam hidup mereka. (hanoum/arrahmah.id)