ISTANBUL (Arrahmah.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa dukungan bangsa Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina bukanlah sikap yang baru muncul dalam beberapa dekade terakhir. Solidaritas tersebut telah terjalin selama sekitar satu abad dan menjadi bagian dari sejarah panjang hubungan kedua bangsa.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI, Dubes Bunyan Saptomo, saat mewakili Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto A. Hakim, pada pembukaan Konferensi Global Coalition for Al-Quds and Palestine (GCQP) di Istanbul, Turki, Jumat (17/7/2026).
Konferensi tersebut dihadiri sekitar 300 delegasi dari 30 negara.
“Dukungan bangsa Indonesia terhadap perjuangan bangsa Palestina telah berlangsung sejak sekitar 100 tahun yang lalu atau satu abad,” ujar Bunyan.
Menurut Bunyan, akar historis hubungan Indonesia dan Palestina dapat ditelusuri sejak dekade 1920-an.
Pada masa itu, para pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir aktif dalam berbagai gerakan kemerdekaan dunia Islam, termasuk perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Palestina.
Salah satu tokoh yang memiliki peran penting adalah Prof. Abdul Kahar Muzakir. Saat belajar di Mesir, ia aktif dalam gerakan kemerdekaan dan tercatat menghadiri Konferensi Dunia Islam di Yerusalem pada 1930.
Selain itu, sejarah juga mencatat adanya sejumlah pemuda Indonesia yang gugur sebagai syuhada dalam perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan Inggris pada dekade 1930-an.
Bunyan menjelaskan, hubungan historis tersebut menjadi salah satu faktor yang melandasi dukungan kuat para pemimpin Palestina dan dunia Arab terhadap kemerdekaan Republik Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
“Hubungan dan solidaritas yang telah terjalin sejak lama itu menjadi salah satu alasan mengapa para pemimpin Palestina dan dunia Arab memberikan dukungan kuat terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 1945,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bunyan juga memperkenalkan delegasi Indonesia yang hadir pada konferensi GCQP, yakni Oke Setiadi dan Kurniasih Zulhadji dari MUI, bersama sejumlah perwakilan lembaga filantropi Indonesia yang selama ini aktif menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.
Lebih lanjut, Bunyan memaparkan perkembangan penguatan jaringan solidaritas Palestina di kawasan Asia Pasifik. Ia menjelaskan bahwa pada akhir 2025, MUI bersama sejumlah lembaga filantropi Indonesia dengan dukungan Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI telah menyelenggarakan Asia Pacific Conference on Al-Quds and Palestine di Kompleks DPR RI, Jakarta.
Konferensi tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk pembentukan Asia Pacific Coalition for Al-Quds and Palestine (APCQP) yang berkedudukan di Jakarta.
“Pembentukan APCQP menjadi langkah penting untuk memperkuat koordinasi dan konsolidasi gerakan solidaritas Palestina di kawasan Asia Pasifik,” ujar Bunyan.
Ia menambahkan, pada awal 2026 juga telah digelar Konferensi Solidaritas Palestina di Davao, Filipina, sebagai bagian dari upaya memperluas dukungan regional terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Saat ini, tim APCQP di Jakarta tengah menyelesaikan proses legalisasi organisasi sebagai perkumpulan resmi. Setelah proses tersebut rampung, APCQP dijadwalkan akan diresmikan pada 19 Agustus 2026.
Organisasi tersebut juga tengah mempersiapkan konferensi tingkat regional berikutnya yang akan diselenggarakan di Malaysia pada Oktober 2026.
Konferensi GCQP di Istanbul menjadi forum internasional yang mempertemukan para aktivis, tokoh masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan organisasi pendukung Palestina dari berbagai negara untuk memperkuat koordinasi global dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina serta mendukung pembebasan Al-Quds.
Melalui forum tersebut, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang secara konsisten berdiri bersama rakyat Palestina.
Menurut Bunyan Saptomo, komitmen tersebut bukan hanya merupakan kebijakan politik luar negeri, tetapi juga bagian dari sejarah panjang solidaritas bangsa Indonesia yang telah terjalin selama satu abad.
(ameera/arrahmah.id)
