GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah himpitan krisis kemanusiaan yang berlarut-larut, anak-anak dan bayi di Jalur Gaza kini dihadapkan pada ancaman baru yang menyebar dengan cepat: wabah cacar air (chickenpox). Penyakit yang lazimnya dianggap ringan ini berubah menjadi momok yang mengkhawatirkan akibat hancurnya infrastruktur kesehatan, minimnya air bersih, serta padatnya tenda-tenda pengungsian di bawah teriknya musim panas.
Bagi ribuan keluarga di Gaza, cacar air bukan lagi sekadar penyakit musiman biasa. Lonjakan kasus ini diperparah oleh buruknya sanitasi, tumpukan sampah, serta kelangkaan akut obat-obatan dan vaksin dasar di tengah blokade yang terus mengepung wilayah tersebut.
Awal bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan keras mengenai lonjakan tajam kasus cacar air di Gaza. Data menunjukkan sekitar 9.300 kasus tercatat hanya dalam kurun waktu dua minggu melalui lebih dari 130 fasilitas kesehatan, di mana lebih dari separuh kasus terkonsentrasi di Provinsi Khan Yunis.
Situasi kian mengkhawatirkan ketika Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, melaporkan bahwa total akumulasi kasus sejak awal tahun 2026 telah melampaui angka 58.000 penderita.
Organisasi kemanusiaan berupaya merespons krisis ini dengan memperluas distribusi air bersih menggunakan truk tangki ke lokasi pengungsian terpadat, meningkatkan upaya klorinasi air, membersihkan fasilitas sanitasi, serta menerjunkan puluhan penyuluh kesehatan untuk mengedukasi warga terkait pencegahan, isolasi mandiri, dan pentingnya penanganan medis dini.
Di balik angka statistik yang masif, tersimpan penderitaan mendalam dari para orang tua di kamp-kamp pengungsian. Sejumlah jurnalis dan aktivis mendokumentasikan bagaimana para bayi dan anak-anak kecil harus berjuang melawan demam tinggi dan ruam parah di ruang sempit tanpa pendingin udara.
Dokter Ahmad al-Fara, Direktur Instalasi Anak di Rumah Sakit Nasser, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan di Gaza saat ini membuat cacar air menjadi jauh lebih berbahaya daripada situasi normal sebelum perang.
Absennya vaksinasi, kelangkaan imunoglobulin, serta minimnya obat antivirus membatasi ruang gerak tenaga medis. Dr. al-Fara memperingatkan bahwa pada bayi dan anak-anak dengan sistem imun lemah serta gizi buruk, cacar air berisiko memicu komplikasi berat seperti pneumonia, ensefalitis (radang otak), miokarditis (radang otot jantung), hepatitis, hingga keracunan darah (sepsis).
Sementara itu, Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiya, menegaskan bahwa lebih dari 1,5 juta manusia kini bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat yang jauh dari kata layak. Ia memperingatkan bahwa buruknya sanitasi tidak hanya memicu cacar air, tetapi juga meluaskan wabah diare, muntaber, infeksi saluran pernapasan, hingga hepatitis.
Di media sosial, potret anak-anak dan bayi yang sekujur tubuhnya dipenuhi ruam memicu gelombang empati dan keprihatinan luas dari warganet. Banyak yang menyuarakan kepedihan melihat anak-anak kecil yang baru mengenal dunia harus langsung berhadapan dengan ancaman wabah mematikan di lingkungan yang terkepung penyakit.
Ungkapan "mereka yang luput dari bom, kini menghadapi wabah" merangkum realitas pahit yang harus dijalani warga Gaza, di mana perang, pengungsian, kelaparan, dan krisis medis melebur menjadi satu ujian harian yang tiada akhir. (zarahamala/arrahmah.id)
