Memuat...

Suriah Ambil Alih Dua Pangkalan Rusia, Kehadiran Moskow Dirombak

Hanoum
Senin, 10 Agustus 2026 / 27 Safar 1448 04:22
Suriah Ambil Alih Dua Pangkalan Rusia, Kehadiran Moskow Dirombak
Hubungan Suriah-Rusia pasca pembebasan: Pertemuan-pertemuan penting dan titik balik membentuk kembali hubungan tersebut. [Foto: SANA]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Suriah dan Rusia menyepakati pengaturan baru atas dua fasilitas militer strategis Rusia di pesisir Laut Mediterania, yakni pangkalan udara Hmeimim di Latakia dan fasilitas angkatan laut Tartus. Kesepakatan yang diumumkan pada Ahad (9/8/2026), memberikan kendali atas fasilitas sipil kepada pemerintah Suriah, sementara fasilitas militer Rusia akan diubah menjadi pusat pelatihan bersama.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah sekitar 18 bulan negosiasi antara pemerintahan Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa dan Moskow. Berdasarkan pengaturan baru, seperti dilansir SANA (9/8), proses transisi akan berlangsung maksimal tiga bulan. Infrastruktur sipil di Hmeimim dan Tartus akan berada di bawah administrasi Suriah, termasuk fasilitas transportasi dan kawasan komersial di pelabuhan Tartus.

Sementara itu, keberadaan militer Rusia tidak sepenuhnya berakhir. Fasilitas militer yang sebelumnya digunakan Rusia akan direorganisasi menjadi pusat pelatihan dan peningkatan kapasitas bersama Suriah-Rusia. Dengan demikian, kesepakatan tersebut lebih tepat dipandang sebagai perubahan bentuk kehadiran militer Rusia daripada penarikan total Moskwa dari Suriah.

Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan pengaturan baru itu ditujukan untuk melindungi kepentingan kedua negara dan membuka babak baru dalam hubungan bilateral. Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani pada hari yang sama terlihat meninjau Bandara Latakia dan Pelabuhan Tartus, dua lokasi yang terkait dengan proses pengalihan pengelolaan kepada pemerintah Suriah.

Sebelumnya, Rusia telah mempertahankan Hmeimim dan Tartus sebagai pusat strategis untuk operasi militernya di Mediterania dan Afrika. Hmeimim menjadi pangkalan utama operasi udara Rusia di Suriah sejak intervensi militer Moskow pada 2015, sedangkan Tartus merupakan fasilitas dukungan dan pemeliharaan angkatan laut Rusia yang penting di Mediterania.

Perubahan tersebut berlangsung setelah pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024. Assad, sekutu lama Moskow, kemudian memperoleh suaka di Rusia. Pemerintahan baru di bawah Ahmad asy Syaraa sejak itu berupaya membangun kembali hubungan dengan Rusia sekaligus memperluas hubungan dengan negara-negara Barat dan Arab.

Dalam pembicaraan sebelumnya, posisi Rusia mengenai masa depan pangkalannya memang mulai berubah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada Juni 2026 mengatakan bahwa Moskow dan Damaskus sedang membahas kemungkinan perubahan fungsi fasilitas militernya di Suriah.

“Kerja sama Rusia-Suriah berkembang sangat aktif.”

Zakharova mengatakan pembahasan tersebut mencakup kemungkinan “reformatting” atau penataan kembali fungsi fasilitas militer Rusia di Suriah. Pernyataan itu muncul ketika masa depan Hmeimim dan Tartus masih menjadi salah satu isu utama dalam hubungan kedua negara.

Bagi Damaskus, kesepakatan terbaru memperkuat kembali kendali negara atas fasilitas strategis di wilayahnya. Bagi Moskow, pengaturan tersebut memungkinkan Rusia mempertahankan hubungan militer dengan Suriah dan keberadaan personelnya melalui pusat pelatihan bersama, meskipun bentuk dan ruang lingkup kehadirannya berubah secara signifikan. Rusia hingga laporan terbaru belum memberikan komentar langsung mengenai pengumuman kesepakatan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)