Memuat...

Trump Bandingkan Keluarganya dengan Keluarga Muslim Abdul El-Sayed, Unggahan di Truth Social Picu Kontroversi

Samir Musa
Senin, 10 Agustus 2026 / 27 Safar 1448 09:08
Trump Bandingkan Keluarganya dengan Keluarga Muslim Abdul El-Sayed, Unggahan di Truth Social Picu Kontroversi
Trump mengunggah fotonya bersama sang istri, serta foto Abdul Rahman El-Sayed bersama istrinya. (Akun Truth Social Donald Trump)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi setelah mengunggah perbandingan dua foto di platform Truth Social yang ia sebut sebagai gambaran "dua Amerika yang sangat berbeda". Unggahan tersebut muncul setelah kandidat Demokrat keturunan Arab, Abdul El-Sayed (Abdul Rahman El-Sayed), memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat dari negara bagian Michigan.

Trump mengunggah dua foto, yakni foto dirinya bersama istrinya, Melania Trump, dan foto Abdul El-Sayed bersama istrinya yang mengenakan hijab. Ia hanya menambahkan keterangan singkat, "Two very different Americas" (Dua Amerika yang sangat berbeda).

Unggahan itu segera memicu perdebatan di media sosial. Banyak aktivis dan pengamat menilai perbandingan tersebut mengandung pesan yang bernuansa diskriminatif karena mengaitkan penampilan dan identitas keagamaan dengan gambaran tentang "Amerika yang sesungguhnya".

Para pengkritik menyoroti latar belakang kedua keluarga. Donald Trump dikenal sebagai pengusaha properti miliarder dan lulusan ekonomi dari Wharton School, University of Pennsylvania, sementara istrinya, Melania Trump, lahir di Slovenia.

Di sisi lain, Abdul El-Sayed merupakan dokter dan pakar epidemiologi berusia 41 tahun. Ia meraih gelar dokter dari Columbia University serta doktor filsafat (PhD) dari University of Oxford. Istrinya, Dr. Sarah, merupakan seorang psikiater.

Sejumlah pengamat menilai kedua keluarga sama-sama mencerminkan kisah sukses dalam masyarakat Amerika yang majemuk. Karena itu, mereka menilai identitas budaya maupun agama seharusnya tidak dijadikan alat untuk memperdalam polarisasi politik menjelang pemilu.

Beberapa komentator bahkan mempertanyakan mengapa Trump terlihat begitu menyoroti Abdul El-Sayed, mengingat politisi Muslim keturunan Arab itu bukanlah pesaing langsungnya dalam pemilihan presiden.

Pengamat lain menilai perhatian Trump terhadap Abdul El-Sayed tidak lepas dari meningkatnya profil politik seorang tokoh Arab Muslim yang memiliki rekam jejak akademik dan profesional yang kuat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi dimanfaatkan dalam narasi kampanye yang menyoroti isu imigrasi dan Islam untuk menarik dukungan dari basis pemilih konservatif.

Sementara itu, sejumlah aktivis menegaskan bahwa perdebatan mengenai "dua Amerika" seharusnya berfokus pada kebijakan publik, konstitusi, dan supremasi hukum, bukan pada penampilan, latar belakang etnis, atau agama seseorang. Mereka menekankan bahwa negara yang menjunjung kebebasan harus melindungi seluruh warga, baik yang religius maupun sekuler, selama menghormati hukum yang berlaku.

Di sisi lain, pendukung Trump menyambut positif unggahan tersebut. Mereka menilai pernyataan itu membuka kembali diskusi mengenai kebijakan imigrasi dan keamanan nasional.

Sebagian pendukung yang lebih moderat menyerukan penerapan kebijakan imigrasi yang ketat namun adil, dengan proses pemeriksaan keamanan berdasarkan risiko individu, bukan atas dasar agama.

Namun, kelompok pendukung yang lebih keras kembali mendorong diberlakukannya larangan perjalanan bagi warga dari sejumlah negara mayoritas Muslim secara permanen. Menurut mereka, kebijakan semacam itu diperlukan untuk menjaga keamanan nasional dan identitas Amerika Serikat.

(Samirmusa/arrahmah.id)