Hubungan Amerika Serikat dan Israel selama lebih dari tujuh dekade dianggap sebagai salah satu aliansi paling stabil di dunia. Namun, perkembangan geopolitik sejak 2023–2026 menunjukkan adanya retakan serius dalam hubungan tersebut. Retakan ini tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga menyentuh aspek moral, strategis, dan kepentingan nasional kedua negara.
Di tengah perubahan politik global, Israel menghadapi tekanan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, berupa isolasi diplomatik, kritik keras terhadap operasi militernya, serta pergeseran opini publik di negara-negara Barat. Artikel ini menganalisis faktor-faktor yang mendorong merenggangnya hubungan AS–Israel serta bagaimana kondisi tersebut memengaruhi masa depan Israel sebagai negara yang dinilai semakin kehilangan legitimasi global.
Faktor-Faktor Retaknya Aliansi AS–Israel
Dalam kerangka pemikiran Ibnu Khaldun, sebuah negara dapat bertahan selama asabiyyah—kohesi sosial, legitimasi moral, dan dukungan eksternal—tetap kuat. Ketika asabiyyah melemah, negara memasuki fase disintegrasi.
Menurut tesis yang dikemukakan penulis, Israel kini berada pada fase akhir siklus tersebut, yang ditandai oleh hilangnya legitimasi internasional, fragmentasi internal, dan retaknya dukungan eksternal, khususnya dari Amerika Serikat.
Dengan demikian, istilah "hilang dari peta geopolitik" tidak dimaknai sebagai kehancuran fisik negara, melainkan runtuhnya status sebagai negara-bangsa modern serta transformasi menjadi entitas politik yang tidak lagi berfungsi secara efektif sebagai negara berdaulat.
Dalam konteks ini, Israel dinilai tidak lagi menjadi aset strategis utama Amerika Serikat sebagaimana pada era Perang Dingin. Sebaliknya, konflik berkepanjangan di Gaza dan Tepi Barat dipandang menghambat upaya Washington membangun koalisi global yang lebih luas.
Ibnu Khaldun menegaskan bahwa negara lahir dari asabiyyah yang kuat, yaitu kohesi internal, solidaritas sosial, dan legitimasi moral. Negara yang kehilangan asabiyyah pada akhirnya akan mengalami kemunduran, meskipun memiliki kekuatan militer yang besar.
Siklus Empat Tahap Negara Menurut Ibnu Khaldun
Fase 1: Pendirian (al-qiyam)
- Asabiyyah kuat.
- Negara bersifat ekspansif.
- Legitimasi tinggi.
Fase 2: Konsolidasi (al-tamkin)
- Institusi negara stabil.
- Ekonomi berkembang.
- Dukungan eksternal menguat.
Fase 3: Kemewahan dan Dekadensi (al-taraf)
- Elite mulai terpecah.
- Korupsi meningkat.
- Legitimasi menurun.
Fase 4: Keruntuhan (al-inhiyar)
- Asabiyyah menghilang.
- Negara semakin terisolasi.
- Dukungan eksternal runtuh.
Menurut tesis penulis, Israel kini berada pada fase keempat.
Israel dinilai mengalami fragmentasi internal yang semakin akut, antara lain ditandai oleh:
- Konflik antara kelompok sekuler dan ultra-Ortodoks.
- Polarisasi politik yang semakin ekstrem.
- Ketegangan antara Yahudi Ashkenazi, Mizrahi, dan kelompok minoritas.
- Penolakan wajib militer oleh sebagian kelompok religius.
Dalam perspektif Ibnu Khaldun, kondisi tersebut merupakan indikator klasik melemahnya asabiyyah.
Ibnu Khaldun juga menyatakan bahwa elite yang tenggelam dalam taraf (kemewahan) akan kehilangan kemampuan memimpin. Penulis melihat gejala tersebut pada Israel melalui:
- Skandal korupsi di kalangan elite politik.
- Kebijakan militer yang memicu delegitimasi moral di tingkat global.
- Ketergantungan yang tinggi pada teknologi dan bantuan luar negeri.
Menurut penulis, elite Israel tidak lagi memiliki asabiyyah yang mampu menyatukan masyarakatnya.
Tekanan Politik Domestik di Amerika Serikat
Sejak periode 2024–2026, opini publik Amerika Serikat disebut mengalami perubahan yang cukup signifikan. Beberapa indikator yang dikemukakan antara lain:
- Menurunnya dukungan terhadap Israel di kalangan generasi muda.
- Meningkatnya demonstrasi di kampus-kampus.
- Tekanan dari kelompok hak asasi manusia dan organisasi internasional.
Kondisi tersebut, menurut penulis, mendorong pemerintah Amerika Serikat mulai mengambil jarak dari sejumlah kebijakan Israel yang dianggap tidak sejalan dengan nilai demokrasi dan hak asasi manusia.
Operasi Militer Israel dan Krisis Legitimasi Global
Operasi militer Israel di Gaza dan wilayah lainnya memicu berbagai konsekuensi internasional, antara lain:
- Investigasi internasional.
- Tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
- Penurunan citra Israel di tingkat global.
Dalam teori Ibnu Khaldun, negara yang kehilangan sekutu utamanya akan memasuki fase kemunduran.
Retaknya hubungan AS–Israel dipandang sebagai indikator:
- Berkurangnya payung legitimasi internasional.
- Menurunnya nilai strategis Israel bagi Amerika Serikat.
- Terjadinya perubahan besar menuju tatanan geopolitik multipolar.
Tanpa dukungan Amerika Serikat, Israel dinilai berpotensi kehilangan:
- Dukungan diplomatik.
- Bantuan militer.
- Legitimasi moral di dunia Barat.
Penulis juga menilai semakin banyak negara Barat yang sebelumnya mendukung Israel kini mulai menyampaikan kritik secara terbuka. Retaknya hubungan AS–Israel dipandang sebagai bagian dari tren global berupa delegitimasi moral dan politik Israel.
Ibnu Khaldun menekankan bahwa negara yang kehilangan legitimasi moral pada akhirnya akan ditinggalkan oleh komunitas internasional. Beberapa indikator yang disebutkan antara lain:
- Bertambahnya negara yang mengakui Palestina.
- Investigasi internasional terhadap operasi militer Israel.
- Menurunnya dukungan dari negara-negara Eropa.
- Meningkatnya boikot akademik dan ekonomi.
Menurut penulis, kondisi tersebut menunjukkan Israel mulai memasuki fase al-inhiyar.
Dampak Retaknya Aliansi terhadap Masa Depan Israel
Retaknya hubungan dengan Amerika Serikat dinilai akan memperkuat isolasi diplomatik Israel, yang ditandai oleh:
- Menurunnya dukungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
- Semakin banyak negara yang mengakui Palestina.
- Penolakan kerja sama militer oleh sejumlah negara Eropa.
Tanpa dukungan penuh Washington, Israel dipandang kehilangan payung diplomatik yang selama ini menjadi pelindung utamanya dari berbagai tekanan internasional.
Selain itu, Israel juga menghadapi kerentanan di bidang ekonomi dan militer karena masih bergantung pada:
- Bantuan militer Amerika Serikat yang mencapai sekitar USD 3,8 miliar per tahun.
- Teknologi pertahanan Amerika.
- Dukungan intelijen dan logistik.
Apabila hubungan tersebut terus melemah, Israel dinilai akan menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mempertahankan keunggulan militernya.
Retaknya aliansi eksternal juga disebut memperburuk kondisi domestik melalui:
- Polarisasi politik.
- Konflik antara kelompok sekuler dan ultra-Ortodoks.
- Menurunnya moral publik.
Dengan demikian, Israel menghadapi tekanan dari luar maupun dari dalam secara bersamaan.
Apakah Israel Menuju "Kehancuran Negara"? Sebuah Analisis Akademik
Istilah "musnahnya negara" dalam tulisan ini dipahami sebagai bentuk delegitimasi politik, bukan semata-mata kehancuran fisik.
Dalam kajian geopolitik, sebuah negara dapat kehilangan fungsi efektifnya ketika:
- Kehilangan legitimasi internasional.
- Kehilangan dukungan dari sekutu utama.
- Mengalami krisis internal yang sulit dipulihkan.
- Tidak lagi mampu mempertahankan struktur pemerintahan yang stabil.
Beberapa analis menilai Israel sedang bergerak menuju fase tersebut, bukan semata-mata akibat ancaman eksternal, melainkan karena:
- Ketergantungan yang tinggi pada satu sekutu.
- Kebijakan militer yang memicu isolasi global.
- Fragmentasi internal yang semakin mendalam.
Namun demikian, Israel masih memiliki kapasitas militer dan ekonomi yang kuat. Oleh karena itu, skenario yang lebih mungkin terjadi adalah transformasi besar atau restrukturisasi politik sebelum kemungkinan terjadinya kemunduran yang lebih jauh.
Kesimpulan
Retaknya aliansi AS–Israel dipandang sebagai salah satu titik balik penting dalam dinamika geopolitik kontemporer. Menurut penulis, Amerika Serikat kini semakin memprioritaskan kepentingan global yang tidak selalu sejalan dengan kebijakan Israel. Di sisi lain, Israel menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat berupa isolasi diplomatik dan krisis legitimasi moral.
Masa depan Israel, menurut tesis ini, akan sangat ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi dengan realitas dunia multipolar yang semakin kritis terhadap kebijakan militer yang dianggap melanggar hak asasi manusia. Jika gagal beradaptasi, Israel dinilai berpotensi mengalami delegitimasi yang mengarah pada transformasi besar dalam struktur negara dan posisinya di dunia.
Dalam kerangka pemikiran Ibnu Khaldun, tesis bahwa Israel dapat "hilang dari peta geopolitik Timur Tengah" dipahami sebagai hilangnya status negara-bangsa modern akibat runtuhnya asabiyyah, legitimasi, dan dukungan eksternal, bukan semata-mata kehancuran fisik. Menurut penulis, Israel kini berada pada fase akhir siklus negara, yaitu fase keruntuhan (al-inhiyar), yang ditandai oleh fragmentasi internal, delegitimasi moral, dan retaknya aliansi dengan Amerika Serikat.
(*/arrahmah.id)
