KABUL (Arrahmah.id) – Seorang pejabat senior Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA) yang membidangi informasi dan kebudayaan di Provinsi Badakhshan, Afghanistan utara, tewas dalam serangan bersenjata pada Selasa (28/7/2026). Insiden ini menjadi salah satu pembunuhan terarah terhadap pejabat tinggi Taliban yang relatif jarang terjadi sejak kelompok tersebut kembali berkuasa pada 2021.
Berdasarkan keterangan Kementerian Informasi dan Kebudayaan Afghanistan, seperti dilansir Kabul Now (28/7), korban diketahui bernama Zabihullah Amiri, Direktur Informasi dan Kebudayaan Badakhshan, ditembak oleh dua pria bersenjata saat dalam perjalanan dari sebuah distrik menuju ibu kota provinsi, Faizabad.
Setelah penembakan terjadi, pasukan pengawal langsung membalas tembakan. Satu pelaku tewas di lokasi, sementara pelaku lainnya berhasil ditangkap hidup-hidup untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kementerian Informasi dan Kebudayaan IIA menyatakan aparat keamanan kini sedang menyelidiki motif di balik serangan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Amiri.
Dalam pernyataannya, Kementerian Informasi dan Kebudayaan Afghanistan mengatakan, "Segera setelah insiden terjadi, petugas keamanan melepaskan tembakan ke arah para penyerang; satu penyerang tewas dan penyerang kedua berhasil ditangkap."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa investigasi masih berlangsung untuk mengungkap jaringan maupun motif di balik serangan itu.
Serangan terhadap pejabat tinggi IIA terbilang jarang sejak pemerintahan IIA mengambil alih Afghanistan pasca-penarikan pasukan Amerika Serikat dan NATO.
Meski demikian, sejumlah serangan besar masih terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada Desember 2024, Menteri Pengungsi Taliban, Khalil Haqqani, tewas dalam serangan bom bunuh diri di Kabul yang kemudian dikaitkan dengan kelompok militan Islamic State Khurasan Provience (ISKP). Sebelumnya, Gubernur Balkh dan Wakil Gubernur Badakhshan juga menjadi sasaran serangan mematikan.
Kabul Now menambahkan bahwa Badakhshan belakangan menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas perlawanan anti-Taliban yang meningkat. Kelompok National Resistance Front (NRF) beberapa kali mengklaim melakukan operasi terhadap pos-pos keamanan IIA di provinsi tersebut. Meski belum ada bukti yang menghubungkan NRF dengan pembunuhan Amiri, perkembangan itu menunjukkan situasi keamanan di Afghanistan masih belum sepenuhnya stabil.
Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan keamanan yang dihadapi pemerintahan IIA. Meskipun kelompok tersebut berulang kali menyatakan berhasil memulihkan stabilitas nasional, serangan terhadap pejabat pemerintah dan aksi kelompok bersenjata masih terus terjadi di sejumlah wilayah Afghanistan. (hanoum/arrahmah.id)
