MEKKAH (Arrahmah.id) -- Sheikh Ibrahim bin Adel Al-Madani, salah satu muazin utama Masjidil Haram di Makkah, wafat pada Senin (21/9/2026) dalam usia 51 tahun. Kabar tersebut diumumkan media resmi Saudi dan kemudian mendapat perhatian luas setelah rekaman suara Al-Madani saat mengumandangkan azan, khususnya azan Subuh, kembali dibagikan di media sosial.
Al-Madani merupakan salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram yang secara bergiliran mengumandangkan azan untuk lima waktu salat serta azan pertama sebelum Subuh. Dari jumlah tersebut, enam muazin bertugas secara bergantian setiap hari. Al-Madani dikenal luas karena suara azan Subuh dan lantunan takbir Idulfitri maupun Iduladha di Masjidil Haram.
Selain mengumandangkan azan, seperti dilansir Saudi Gazeete (21/9), Al-Madani juga menjalankan tugas tabligh, yakni menyampaikan atau mengulangi takbir imam melalui sistem pengeras suara dari bagian khusus muazin di Masjidil Haram agar dapat terdengar oleh jamaah di berbagai bagian masjid. Peran tersebut membuatnya menjadi bagian dari sistem pelayanan ibadah di Masjidil Haram yang melibatkan para muazin secara bergiliran.
Kabar wafatnya Al-Madani muncul pada Senin, setelah ia dilaporkan masih mengumandangkan azan Subuh di Masjidil Haram pada dini hari. Rekaman yang disebut sebagai azan terakhirnya kemudian beredar di berbagai platform media sosial. Namun, sejumlah media mencatat bahwa penyebab kematiannya belum dijelaskan secara rinci oleh otoritas Saudi dalam pengumuman awal mengenai wafatnya.
Menurut laporan Morocco World News, Al-Madani lahir di Madinah pada 1976 dari keluarga yang memiliki latar belakang keagamaan. Ia mulai mengumandangkan azan ketika berusia sekitar 15 tahun di sebuah masjid lingkungan di Madinah. Setelah sempat menjalani aktivitas lain, ia kembali menjalankan tugas sebagai muazin dan kemudian secara resmi ditunjuk untuk bertugas di Masjidil Haram pada 1439 Hijriah atau sekitar 2017–2018.
Dalam sebuah wawancara podcast yang dikutip Saudi Gazette, Al-Madani pernah menceritakan pengalaman pertamanya mengumandangkan azan di Masjidil Haram. Ia mengatakan dirinya menangis ketika melihat jamaah mengelilingi Ka'bah sembari mendengar suara azannya. Ia juga pernah menjelaskan perbedaan gaya azan yang berkembang dalam tradisi Makkah dan Madinah.
Setelah kabar kematiannya tersebar, pengguna media sosial membagikan kembali rekaman azan dan takbir Al-Madani dari Masjidil Haram. Media Arab seperti Al Jazeera dan Al Araby mencatat bahwa suara Al-Madani, terutama azan Subuh dan takbir, menjadi bagian yang paling banyak dikenang masyarakat setelah kabar wafatnya.
Media Saudi melaporkan bahwa salat jenazah Al-Madani dijadwalkan dilaksanakan setelah salat Asar pada Senin di Masjidil Haram, kemudian jenazah dimakamkan di Pemakaman Al-Ma'la, Makkah. Sementara itu, lembaga yang mengelola pelayanan Dua Masjid Suci turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya salah satu muazin Masjidil Haram tersebut.
Wafatnya Sheikh Ibrahim Al-Madani menutup perjalanan panjang seorang muazin yang selama bertahun-tahun dikenal melalui azan dan takbirnya di Masjidil Haram. Pada hari terakhirnya, suaranya masih terdengar dalam azan Subuh sebelum kemudian kabar wafatnya menyebar dan memicu penghormatan dari jamaah serta masyarakat yang mengenalnya melalui siaran ibadah dari Masjidil Haram. (hanoum/arrahmah.id)
