Memuat...

'Israel' Tawarkan Bantuan Militer Hadapi Houtsi, Saudi Waspada

Zarah Amala
Selasa, 15 September 2026 / 4 Rabiulakhir 1448 12:01
'Israel' Tawarkan Bantuan Militer Hadapi Houtsi, Saudi Waspada
Keengganan AS untuk campur tangan dalam perang Arab Saudi melawan Houthi dapat membuka jalan bagi 'Israel' untuk turun tangan [Getty]

RIYADH (Arrahmah.id) - 'Israel' memberi sinyal siap memperluas peran militernya dalam menghadapi kelompok Houtsi di Yaman. Namun, Arab Saudi diperkirakan tidak akan dengan mudah menerima bantuan 'Israel' di tengah keengganan Amerika Serikat untuk terlibat langsung dalam perang tersebut.

Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu disebut menawarkan bantuan kepada sejumlah negara Arab berdasarkan laporan media 'Israel' yang mengutip sumber AS. Tawaran itu muncul ketika Arab Saudi meminta dukungan militer lebih besar, sementara Washington sejauh ini hanya memberikan bantuan intelijen dan dukungan penentuan target.

Langkah 'Israel' tersebut muncul setelah Houtsi mencatat sejumlah kemajuan di pesisir Laut Merah, termasuk menguasai Pulau Perim atau Mayyun yang berada di Selat Bab al-Mandeb. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi di kawasan pesisir dilaporkan mengalami kemunduran besar akibat serangan Houtsi.

Pakar keamanan Timur Tengah dari King's College London, Andreas Krieg, mengatakan kepada The New Arab bahwa keengganan AS memang membuka peluang bagi 'Israel' untuk mengambil peran lebih besar, tetapi hal itu tidak berarti Saudi akan membangun ketergantungan keamanan baru kepada 'Israel'.

“Riyadh tidak ingin berpindah dari ketergantungan kepada Washington ke ketergantungan pada arsitektur keamanan 'Israel',” kata Krieg.

Menurutnya, Saudi dapat melihat adanya kepentingan taktis yang sama dengan 'Israel' dalam menghadapi Iran dan Houtsi. Namun, hal itu berbeda dengan mempercayakan pertahanan kerajaan kepada 'Israel'.

'Israel' Berkepentingan di Bab al-Mandeb

'Israel' memiliki kepentingan langsung untuk mencegah Houtsi memperkuat kendali di sekitar Bab al-Mandeb. Selat yang lebarnya kurang dari 30 kilometer pada titik tersempit itu menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia serta menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Bagi 'Israel', Bab al-Mandeb juga menjadi jalur laut yang menghubungkan Pelabuhan Eilat dengan Samudra Hindia.

Krieg mengatakan 'Israel' berpotensi menawarkan kemampuan intelijen, pengawasan, pengintaian, perang elektronik, siber, serta pengalaman menyerang fasilitas rudal, drone, dan pusat komando Houtsi.

Namun, menurutnya, persoalan utama Saudi bukan kekurangan persenjataan.

“Serangan udara dapat menghancurkan peluncur rudal, gudang, dan pusat komando, tetapi tidak dapat mengusir Houtsi secara permanen dari Bab al-Mandeb atau menguasai wilayah Yaman,” ujarnya.

Saudi sebelumnya memimpin intervensi militer terhadap Houtsi sejak 2015. Bertahun-tahun serangan udara dan pertempuran gagal mengalahkan kelompok tersebut, yang justru memperkuat kendali atas sebagian besar Yaman utara serta mengembangkan kemampuan rudal dan drone.

Saudi Cari Alternatif Dukungan Keamanan

Kemajuan Houtsi kini menghadapkan Riyadh pada persoalan strategis baru. Ancaman terhadap jalur pelayaran semakin besar karena Iran mengancam Selat Hormuz, sementara kendali Houtsi di sekitar Bab al-Mandeb menekan jalur Laut Merah.

Arab Saudi juga menghadapi kerentanan terhadap serangan drone. Jalur pipa minyak East-West yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz dengan membawa minyak ke pantai Laut Merah sebelumnya telah menjadi sasaran serangan.

Krieg memperingatkan keterlibatan 'Israel' secara terbuka justru dapat memperburuk posisi Saudi. Houthi dapat menggunakan keterlibatan tersebut untuk memperkuat narasi bahwa Riyadh merupakan bagian dari koalisi 'Israel'-Amerika.

Kerja sama tidak langsung masih mungkin dilakukan, terutama melalui pertukaran intelijen lewat saluran AS. Namun, Krieg menegaskan bahwa operasi secara paralel tidak otomatis berarti kedua negara membentuk aliansi atau koordinasi erat.

Menurutnya, Riyadh kini tampak berupaya membangun sistem keamanan yang lebih beragam dengan melibatkan Pakistan, Turki, Mesir, mitra maritim Eropa, serta memperkuat kerja sama keamanan negara-negara Teluk dan Arab-Islam.

“Pelajaran yang tampaknya diambil Riyadh bukan bahwa Israel harus menggantikan Amerika Serikat, tetapi bahwa Saudi membutuhkan sistem keamanan yang lebih beragam dan memberi mereka kendali lebih besar,” kata Krieg.

Ia menilai kesamaan kepentingan 'Israel' dan Saudi dalam menjaga keamanan Laut Merah belum tentu membawa kedua negara semakin dekat secara strategis. Mengganti ketergantungan kepada AS dengan ketergantungan kepada 'Israel', menurutnya, hanya akan menukar satu kerentanan dengan kerentanan lain yang bahkan berpotensi lebih berbahaya secara politik. (zarahamala/arrahmah.id)