AL MADARIBAH (arrahmah.id) - Pertempuran sengit antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houtsi yang didukung Iran terus berlanjut pada Kamis—memasuki hari keempat berturut-turut—di sekitar sebuah gunung strategis di wilayah Al-Madaribah Wa Al-Aarah yang menghadap ke Selat Bab Al-Mandab, saat milisi tersebut berupaya merebut dataran tinggi yang menguasai jalur pelayaran vital di Laut Merah.
Seorang pejabat pemerintah Yaman yang mengetahui situasi di sepanjang pesisir Laut Merah mengatakan kepada Arab News bahwa kelompok Houtsi telah melancarkan serangan gencar terhadap pasukan pemerintah yang mempertahankan posisi di Kahbub, namun sejauh ini gagal untuk bergerak maju.
"Pertempuran berkecamuk di Al-Madaribah, dan milisi tersebut tidak mampu bergerak maju sedikit pun," ujar pejabat yang meminta namanya dirahasiakan itu.
"Pertempuran telah berlangsung selama empat hari, dan milisi tersebut telah kehilangan banyak petempur serta peralatan tempur."
Pejabat tersebut mengatakan bahwa kelompok Houtsi kesulitan untuk membuat kemajuan karena medan pertempuran terdiri dari rangkaian pegunungan, bukit, dan lembah, sementara banyak pasukan pemerintah yang mempertahankan wilayah tersebut adalah petempur lokal yang sangat mengenal medan tersebut, lansir Arab News (18/9/2026).
Kelompok Houtsi merebut kota pelabuhan Mokha di Laut Merah—yang merupakan basis pasukan Perlawanan Nasional pemerintah di bawah komando anggota Dewan Kepemimpinan Presiden, Tareq Saleh—pada 10 September.
Mereka kemudian bergerak ke arah selatan dan merebut Pulau Perim yang strategis di Selat Bab Al-Mandab, sehingga mendapatkan pijakan di salah satu jalur pelayaran internasional terpenting di dunia.
Pasukan pemerintah Yaman kemudian melakukan konsolidasi ulang di dekat Al-Madaribah Wa Al-Aarah, tidak jauh dari Bab Al-Mandab, dalam upaya mencegah kelompok Houthi bergerak lebih jauh ke selatan.
Pejabat pemerintah tersebut mengatakan bahwa kelompok Houtsi tampaknya berupaya menguasai posisi-posisi pegunungan yang menghadap ke Bab Al-Mandab, meskipun ia menyebutkan bahwa mereka juga bisa saja mencoba bergerak lebih jauh ke selatan menuju Aden, pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
"Mereka mengerahkan kekuatan besar, namun kesulitan untuk bergerak maju dan menderita kerugian personel," ujarnya.
"Mereka terus meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke arah posisi para tentara."
Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap posisi-posisi Houtsi di sepanjang pesisir Laut Merah, dengan menyasar titik-titik perkumpulan, kendaraan militer, parit pertahanan, serta para petempur yang menggunakan sepeda motor. Angkatan Darat Yaman menyatakan bahwa pesawat tempur telah menyerang pasukan bantuan Houtsi di sebelah tenggara Taiz selama 24 jam terakhir, serta pasukan bantuan tambahan yang bergerak di sepanjang jalan Al-Bareh-Mokha di sebelah barat kota tersebut.
Pihak militer juga menyatakan telah menggagalkan serangan Houtsi di distrik Jabal Habashi, sebelah barat Taiz.
Sementara itu, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Rashad Al-Alimi pada Kamis mengatakan bahwa kelompok Houtsi telah menderita kerugian besar di Taiz, Marib, Lahj, Jouf, Hajjah, Al-Bayda, dan Al-Dhale. Ia menegaskan kembali tekad pasukan pemerintah untuk merebut kembali inisiatif dan mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasai oleh milisi tersebut.
Dalam pertemuan di Riyadh dengan Duta Besar Prancis untuk Yaman yang akan mengakhiri masa tugasnya, Catherine Corm-Kammoun, Al-Alimi menyatakan bahwa pasukan pemerintah akan membalikkan kemajuan yang baru-baru ini dicapai Houtsi di sepanjang pantai barat.
Ia menggambarkan kemajuan milisi tersebut sebagai hal yang "sementara" dan mengatakan bahwa hal itu tidak akan menghalangi pemerintah untuk mengejar tujuan yang lebih luas, yaitu memulihkan kendali negara atas wilayah yang dikuasai Houtsi.
Al-Alimi mengatakan bahwa pada tahap awal perang, tak lama setelah Houtsi merebut Sana'a pada akhir 2014, kelompok tersebut meyakini bahwa mereka berada di posisi yang lebih unggul dan dapat menguasai seluruh negeri.
Pasukan pemerintah kemudian berhasil merebut kembali Aden dan sekitar 70 persen wilayah Yaman, ujarnya.
"Apa yang terjadi saat ini menandai fase baru dalam perjuangan berkelanjutan yang dilakukan negara untuk memulihkan institusinya, mengamankan wilayah, pesisir, dan perairan teritorialnya, serta melindungi jalur maritim dari ancaman bersenjata dan jaringan penyelundupan lintas batas," demikian pernyataan Al-Alimi yang dikutip oleh kantor berita resmi SABA. (haninmazaya/arrahmah.id)
