IDLIB (Arrahmah.id) -- Pemimpin muhajirin (Pejuang asing) asal Prancis yang dikenal sebagai tokoh jihad Suriah, Omar Omsen, menyampaikan pesan Idul Adha yang berisi kritik keras terhadap pemerintahan baru Suriah serta seruan soal keadilan, tahanan politik, dan arah masa depan negara tersebut. Pernyataan itu memicu perhatian luas karena Omar Omsen merupakan figur kontroversial yang lama dikaitkan dengan jaringan muhajirin di Suriah utara.
Pesan tersebut disampaikan Omar Omsen dalam kapasitasnya sebagai penanggung jawab kamp muhajirin Prancis di wilayah Harem, Idlib, Suriah barat laut, pada momen Idul Adha 2026.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir X (28/5/2026), ia menyerukan persatuan rakyat Suriah, namun secara tersirat mengecam pemerintahan baru Suriah yang menurutnya gagal menghadirkan keadilan bagi rakyat dan tahanan politik.
Omar Omsen, yang memiliki nama asli Omar Diaby, dikenal sebagai salah satu perekrut pejuang asing paling terkenal asal Prancis selama perang Suriah. Ia sebelumnya dikaitkan dengan kelompok-kelompok jihad di Suriah sejak awal konflik dan menjadi buronan internasional karena aktivitas perekrutan militan dari Eropa. Menurut laporan media Prancis dan lembaga pemantau terorisme internasional, Omsen pernah memimpin jaringan “Firqatul Ghuraba” di Suriah utara.

Dalam pesan panjangnya, Omar Omsen menyinggung soal para tahanan yang menurutnya dipenjara tanpa proses hukum yang adil.
"Masyarakat yang merayakan hari raya tetapi melupakan para tahanan yang tidak bersalah telah gagal menjalankan kewajibannya menegakkan keadilan," ujar Omsen.
Ia juga menyerukan pembebasan tahanan dan meminta perubahan nyata di Suriah, bukan sekadar pergantian slogan politik.
"Kami berharap ini menjadi awal era keadilan baru, bukan sekadar perubahan wajah, slogan, atau pidato," kata Omsen.
Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi Suriah yang masih belum stabil pasca jatuhnya rezim Bashar al-Assad dan terbentuknya pemerintahan baru di Damaskus. Berbagai kelompok bersenjata, termasuk faksi jihad asing, masih memiliki pengaruh di beberapa wilayah utara Suriah, terutama di Idlib dan sekitarnya.
Menurut laporan International Crisis Group dan BBC, wilayah Idlib hingga kini tetap menjadi basis berbagai kelompok Islam bersenjata, termasuk pejuang asing dari Eropa, Asia Tengah, dan Kaukasus. Meski sebagian kelompok telah melemah, jaringan ideologis mereka masih aktif melalui media sosial dan kamp-kamp komunitas lokal.
Dalam pesannya, Omar Omsen juga menegaskan pentingnya penerapan syariat Islam dan loyalitas terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia menolak “jalan lain” yang dianggap bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Pernyataan itu dinilai sejumlah analis sebagai sinyal bahwa sebagian faksi jihad asing masih menolak pendekatan politik moderat yang mulai dibangun sebagian kelompok oposisi Suriah.
Pakar Timur Tengah dari Carnegie Middle East Center menyebut keberadaan tokoh-tokoh seperti Omar Omsen menunjukkan bahwa Suriah masih menghadapi tantangan besar dalam proses stabilisasi keamanan dan deradikalisasi pascaperang.
Sementara itu, pemerintah Suriah belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Omar Omsen. Namun sejumlah pengamat menilai pesan tersebut berpotensi memperlihatkan adanya ketidakpuasan di kalangan faksi-faksi jihad asing terhadap arah politik Suriah saat ini.
Konflik Suriah sendiri telah berlangsung lebih dari satu dekade dan menyebabkan ratusan ribu korban jiwa serta jutaan warga mengungsi. Meski intensitas perang menurun dibanding beberapa tahun lalu, situasi keamanan dan politik negara itu masih rapuh dengan banyaknya kelompok bersenjata yang belum sepenuhnya terintegrasi. (hanoum/arrahmah.id)
