Memuat...

Perjanjian Damai AS-Iran Resmi Diketuk, Perang di Semua Front Resmi Berakhir

Zarah Amala
Senin, 15 Juni 2026 / 30 Zulhijah 1447 08:36
Perjanjian Damai AS-Iran Resmi Diketuk, Perang di Semua Front Resmi Berakhir
Upacara penandatanganan resmi akan berlangsung di Swiss pada hari Jumat, 19 Juni (Getty).

ISLAMABAD (Arrahmah.id) - Dunia mencatat sejarah baru setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan damai komprehensif antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran pada Senin (15/6/2026) dini hari. Pengumuman monumental ini dikonfirmasi langsung secara berturut-turut oleh Presiden AS Donald Trump dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang menyatakan bahwa seluruh draf Nota Kesepahaman (MoU) telah final dan perang di semua front resmi dihentikan secara permanen.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif lewat akun resminya di X mengungkapkan bahwa upacara penandatanganan perjanjian bersejarah ini akan digelar di Jenewa, Swiss, pada Jumat, 19 Juni 2026 mendatang. "Dengan masuknya perjanjian ini ke fase implementasi, para mediator internasional akan memfasilitasi serangkaian pertemuan tingkat tinggi sepanjang pekan ini," tulis Sharif.

Presiden AS Donald Trump langsung mengabarkan kabar gembira ini melalui platform miliknya, Truth Social. Trump menegaskan bahwa salah satu kesepakatan terbesar abad ini telah rampung seutuhnya dan siap mengubah lanskap geopolitik global.

"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai sepenuhnya. Selamat untuk semuanya! Melalui dekret ini, saya nyatakan Selat Hormuz dibuka kembali untuk pelayaran kapal tanpa pungutan biaya, bersamaan dengan pencabutan total dan seketika atas seluruh blokade laut AS. Kepada kapal-kapal di seluruh dunia: Nyalakan mesin kalian, dan biarkan minyak kembali mengalir!" seru Donald Trump.

Pengumuman dramatis ini langsung mengirimkan guncangan hebat ke pasar energi global. Hanya beberapa menit setelah unggahan Trump viral, harga minyak mentah dunia langsung terjun bebas, di mana kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merosot tajam hingga 4 persen ke level sekitar 84 dolar AS per barel.

Wakil Presiden AS, JD Vance, dalam wawancaranya dengan Fox News menyatakan optimisme serupa. "Jika pihak Iran mematuhi perjanjian ini, hal tersebut akan membawa transformasi radikal yang mengubah wajah Timur Tengah secara total dalam 50 tahun ke depan," ujar Vance yang juga mengonfirmasi rencana kehadirannya, atau bahkan kehadiran langsung Presiden Trump, di Swiss Jumat depan.

Dari pihak Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi merilis manifesto resmi yang membenarkan bahwa perumusan teks final MoU penghentian perang bersama Washington telah selesai pada Ahad malam.

Deklarasi bersama antara Iran dan Amerika Serikat menetapkan sejumlah poin utama yang menandai babak baru geopolitik kawasan, dimulai dengan kesepakatan gencatan senjata di semua front yang mewajibkan penghentian seluruh operasi militer secara total, langsung, dan permanen di semua medan pertempuran, termasuk di wilayah Lebanon, mulai hari ini.

Langkah krusial ini dibarengi dengan pembukaan blokade maritim seiring ditarik mundurnya armada Angkatan Laut AS, sehingga seluruh pelabuhan Iran kini bebas dari blokade ekonomi maritim yang selama ini mencekik.

Guna mematangkan komitmen ini, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa kedua negara menyepakati tenggat waktu negosiasi lanjutan selama 60 hari pasca-penandatanganan di Swiss untuk merumuskan perjanjian pemungkas (final agreement). Kendati menyambut baik hasil ini dan berterima kasih kepada Pakistan serta Qatar selaku mediator, Teheran menegaskan sikap waspada mereka karena rasa tidak percaya terhadap AS tetap ada.

Gharibabadi menekankan bahwa Iran telah menyiapkan program pengawasan khusus untuk memantau implementasi janji Washington, dan isi detail mengenai dokumen kesepahaman (MoU) baru ini baru akan dibuka sepenuhnya kepada publik setelah proses penandatanganan resmi selesai dilaksanakan di Jenewa pada Jumat (19/6). (zarahamala/arrahmah.id)