TEHERAN (Arrahmah.id) -- Lantunan Surah Ali Imran ayat 13 saat delegasi Arab Saudi memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memicu perdebatan di kalangan pengamat Timur Tengah.
Sejumlah analis menilai pemilihan ayat tersebut bukan sekadar bagian dari prosesi keagamaan, melainkan diduga mengandung pesan diplomatik yang ditujukan kepada Riyadh. Namun hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pemilihan ayat tersebut.
Dilansir India Today (6/7/2026), lebih dari 30 delegasi negara yang datang ke melayat Ali Khamenei disambut dengan lantunan ayat Al Quran yang berbeda.
Saat delegasi Arab Saudi yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Waleed Al-Khereiji memasuki ruang penghormatan, terdengar pembacaan Surah Ali Imran ayat 13, yang mengisahkan Perang Badar—pertempuran pertama dalam sejarah Islam ketika pasukan Muslim yang lebih kecil berhasil mengalahkan lawan yang jauh lebih besar.
Perang tersebut berlangsung di wilayah yang kini menjadi Arab Saudi, sehingga pemilihan ayat itu langsung menarik perhatian para pengamat.
Analis keamanan internasional Shahin Modarres menilai, seperti dilansir Middle East Monitor, pemilihan ayat tersebut kemungkinan memiliki makna simbolis. Ia mengatakan, "Kata-kata yang paling penting dalam pemakaman itu bukanlah yang diucapkan para pejabat, melainkan ayat-ayat yang dibacakan. Itu tampak seperti cara Iran menyampaikan pesan diplomatik tanpa mengeluarkan pernyataan resmi."
Meski demikian, belum ada bukti resmi bahwa pemilihan Surah Ali Imran ayat 13 memang disengaja untuk menyampaikan pesan politik kepada Arab Saudi.
Kantor Pemimpin Tertinggi Iran maupun penyelenggara pemakaman tidak memberikan penjelasan mengenai dasar pemilihan ayat yang dibacakan kepada masing-masing delegasi. Karena itu, anggapan bahwa ayat tersebut merupakan sinyal diplomatik masih sebatas analisis para pengamat dan pemberitaan media, bukan konfirmasi dari pemerintah Iran.
Laporan Nile Post menyebut penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an yang berbeda bagi tiap delegasi telah memunculkan spekulasi luas mengenai praktik "diplomasi Al-Qur'an" Iran.
Beberapa negara yang dipandang sebagai sekutu maupun rival disebut menerima ayat dengan tema yang berbeda, sehingga memunculkan dugaan bahwa Teheran memanfaatkan simbol-simbol keagamaan untuk menyampaikan pesan politik secara halus di tengah dinamika hubungan kawasan. Namun, tanpa penjelasan resmi dari otoritas Iran, makna di balik pemilihan ayat tersebut tetap terbuka untuk berbagai interpretasi. (hanoum/arrahmah.id)
