YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Anggota parlemen 'Israel', Ariel Kellner, mendeklarasikan Turki sebagai “negara musuh” dan menyebut Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai sosok yang berbahaya. Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara 'Israel' dan Turki terkait perang di Gaza, Suriah, serta pengaruh kedua negara di kawasan Timur Tengah.
Kellner, yang merupakan anggota parlemen dari Partai Likud pimpinan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu, menyampaikan pandangannya dalam wawancara yang dikutip CNN (12/6/2026).
Ia menuduh pemerintah Turki di bawah Erdogan semakin mengambil posisi yang menurutnya bertentangan dengan kepentingan 'Israel' dan stabilitas kawasan.
Laporan Middle East Eye menyebut pernyataan tersebut muncul setelah Ankara kembali melontarkan kritik keras terhadap kebijakan militer 'Israel' di Gaza dan memperingatkan Israel agar tidak memperluas serangan ke Damaskus maupun Beirut.
Dalam pernyataannya, Kellner menilai Turki saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai mitra strategis 'Israel' sebagaimana pada masa lalu. Menurutnya, kebijakan luar negeri Erdogan telah mengubah hubungan kedua negara menjadi semakin konfrontatif.
“Turki harus diperlakukan sebagai negara musuh. Erdogan adalah pemimpin yang berbahaya dan ambisinya mengancam stabilitas kawasan,” kata Ariel Kellner sebagaimana dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut segera memicu perhatian luas karena hubungan 'Israel' dan Turki dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami pasang surut. Meski kedua negara sempat melakukan normalisasi hubungan diplomatik dan meningkatkan kerja sama ekonomi, ketegangan kembali meningkat sejak pecahnya perang Gaza. Erdogan secara konsisten menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling vokal mengkritik operasi militer 'Israel' terhadap Palestina.
Dalam sejumlah pidato sebelumnya, Erdogan menuduh 'Israel' melakukan tindakan yang melanggar hukum internasional di Gaza serta mendesak komunitas internasional untuk menekan Tel Aviv agar menghentikan operasi militernya. Pemerintah Turki juga telah membatasi sejumlah bentuk kerja sama dengan 'Israel' dan meningkatkan dukungan diplomatik terhadap Palestina.
Ketegangan semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir ketika Turki memperingatkan bahwa serangan 'Israel' yang meluas ke Suriah dan Lebanon dapat mengancam keamanan regional. Ankara menilai setiap eskalasi baru di Damaskus atau Beirut berpotensi memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah, sementara Israel beralasan bahwa operasinya ditujukan untuk menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok yang didukung Iran. (hanoum/arrahmah.id)
