WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Seorang profesor Amerika Serikat (AS) sekaligus pakar hubungan internasional menyatakan bahwa 'Israel', bukan Iran, merupakan ancaman nuklir utama di Timur Tengah karena memiliki persenjataan nuklir yang telah lama beroperasi namun tidak berada di bawah pengawasan internasional sebagaimana program nuklir Iran. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara 'Israel' dan Iran serta perdebatan global mengenai keamanan kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Profesor John Mearsheimer dari Universitas Chicago dalam wawancara yang dilansir Al Mayadeen (15/6/2026). Menurut Mearsheimer, fokus dunia internasional selama ini terlalu tertuju pada potensi pengembangan senjata nuklir Iran, sementara keberadaan arsenal nuklir 'Israel' yang telah lama diyakini dimiliki negara tersebut justru jarang menjadi sorotan utama. Laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperkirakan 'Israel' memiliki sekitar 80 hingga 90 hulu ledak nuklir dan terus memodernisasi kemampuan strategisnya.
“Ancaman nuklir utama di Timur Tengah bukan Iran, melainkan 'Israel' yang sudah memiliki senjata nuklir dalam jumlah besar,” kata Profesor John Mearsheimer.
Mearsheimer menilai perbedaan perlakuan internasional terhadap kedua negara menciptakan standar ganda dalam isu non-proliferasi nuklir. Iran merupakan anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan program nuklirnya diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sementara 'Israel' mempertahankan kebijakan ambigu dengan tidak mengakui maupun membantah kepemilikan senjata nuklir serta tidak menjadi anggota NPT.
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik antara 'Israel' dan Iran kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir. Serangan militer dan saling balas rudal antara kedua negara telah meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi yang lebih luas di kawasan. Sejumlah laporan media internasional menyebut bahwa ketegangan terbaru bahkan sempat mengganggu upaya diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat dan Qatar untuk meredakan konflik regional.
Dalam wawancara terpisah yang dikutip Al Mayadeen, mantan pejabat Pentagon Michael Maloof juga menyoroti kemampuan rudal Iran yang menurutnya semakin efektif dan presisi dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia menyatakan bahwa perkembangan teknologi militer Iran telah mengubah keseimbangan strategis di kawasan dan memaksa negara-negara lain untuk menyesuaikan perhitungan keamanan mereka.
Data dari SIPRI menunjukkan bahwa 'Israel' tetap menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang secara luas diyakini memiliki senjata nuklir operasional. Meski pemerintah 'Israel' mempertahankan kebijakan "nuclear ambiguity" atau ambiguitas nuklir, berbagai lembaga penelitian internasional memperkirakan negara tersebut memiliki puluhan hulu ledak yang dapat diluncurkan melalui pesawat tempur, rudal balistik, dan kemungkinan platform laut.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berulang kali menegaskan bahwa negaranya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Pada Mei lalu, ia menyatakan Iran siap memberikan jaminan kepada dunia internasional bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan bukan untuk memproduksi senjata atom.
Perdebatan mengenai siapa yang menjadi ancaman nuklir terbesar di Timur Tengah diperkirakan akan terus berlanjut seiring meningkatnya rivalitas antara 'Israel' dan Iran. Namun sejumlah pengamat menilai bahwa isu tersebut kembali menyoroti pertanyaan mendasar mengenai transparansi, pengawasan internasional, dan penerapan standar yang sama terhadap seluruh negara yang memiliki kemampuan nuklir di kawasan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
