Memuat...

Qatar Katakan Irak Menyerang Pusat LNG, UEA Tutup Fasilitas Gas

Hanin Mazaya
Kamis, 19 Maret 2026 / 30 Ramadan 1447 17:22
Qatar Katakan Irak Menyerang Pusat LNG, UEA Tutup Fasilitas Gas
Fasilitas produksi gas alam cair (LNG) QatarEnergy, di tengah konflik AS-"Israel" dengan Iran, di Kota Industri Ras Laffan. (Foto: Reuters)

DOHA (Arrahmah.id) - Perusahaan minyak negara Qatar, QatarEnergy, mengatakan pada Rabu bahwa serangan rudal Iran di Ras Laffan, lokasi operasi pengolahan LNG utama negara itu, menyebabkan "kerusakan yang luas," sementara UEA menutup fasilitas gas setelah mencegat rudal pada Kamis pagi.

Serangan tersebut, yang memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump, terjadi beberapa jam setelah Iran mengeluarkan peringatan evakuasi untuk beberapa fasilitas minyak di Arab Saudi, UEA, dan Qatar, menyusul serangan terhadap infrastruktur energinya sendiri di South Pars dan Asaluyeh, lansir AFP (19/3/2026).

QatarEnergy, eksportir LNG terbesar kedua di dunia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tim tanggap daruratnya segera dikerahkan untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh serangan tersebut. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dan semua personel telah dipastikan keberadaannya, tambahnya.

Ras Laffan, yang terletak 80 km (50 mil) di utara Doha, adalah pusat industri energi dan menjadi tempat bagi beberapa perusahaan internasional termasuk Shell, pedagang LNG terbesar di dunia.

“Saat ini kami sedang menilai potensi dampak apa pun terhadap aset yang dioperasikan atau digunakan oleh Shell di Kota Industri Ras Laffan dan akan memberikan informasi lebih lanjut pada waktunya,” kata juru bicara Shell. Perusahaan energi besar ini memiliki 30 persen saham di fasilitas LNG berkapasitas 7,8 juta metrik ton per tahun dan investasi di pabrik LNG yang belum berproduksi di Ras Laffan. Shell juga memiliki 100 persen saham di pabrik gas-ke-cair Pearl di pusat industri tersebut, dengan kapasitas untuk memproses hingga 1,6 miliar kaki kubik gas sumur per hari.

QatarEnergy mengatakan fasilitas gas-ke-cair Pearl mengalami kerusakan yang luas. Beberapa fasilitas LNG terkena serangan rudal pada dini hari Kamis, menyebabkan “kebakaran besar” dan kerusakan lebih lanjut, tambahnya.

 

Trump Mengancam Balasan
Qatar memproduksi 77 juta metrik ton LNG setiap tahun dan merupakan eksportir terbesar kedua di dunia untuk bahan bakar yang digunakan dalam pembangkit listrik dan industri. Kilang Laffan terutama memproses kondensat menjadi produk olahan termasuk bahan bakar penerbangan.

Dalam sebuah pernyataan di media sosial, Trump memperingatkan Iran untuk tidak menyerang fasilitas LNG Qatar lagi dan mengancam akan "meledakkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran" jika hal itu terjadi. Ia mengatakan "Israel" telah menyerang South Pars tanpa memberi tahu Qatar atau Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri Qatar memerintahkan atase keamanan dan militer Iran untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam dan menyatakan mereka sebagai "persona non grata." Dalam sebuah pernyataan, kementerian mengutuk serangan terhadap Ras Laffan sebagai "ancaman langsung" terhadap keamanan nasional Qatar dan menuduh Iran mengambil "pendekatan yang tidak bertanggung jawab."

Saul Kavonic, kepala penelitian di MST Marquee Australia, mengatakan serangan terhadap Ras Laffan “dapat menyebabkan kekurangan gas global yang berkepanjangan, tetapi ini tidak akan menekan pemerintahan Trump karena AS mendapat keuntungan ekonomi dari harga gas global yang tinggi.”

 

Fasilitas gas ditutup di UEA
Di UEA, pihak berwenang mengatakan mereka menanggapi insiden di fasilitas gas Habshan dan di ladang minyak Bab yang disebabkan oleh puing-puing yang jatuh dari rudal yang dicegat.

Fasilitas gas ditutup dan tidak ada laporan cedera, kata Kantor Media Abu Dhabi.

Kompleks Habshan, yang dioperasikan oleh raksasa minyak negara Abu Dhabi, ADNOC, adalah salah satu fasilitas pengolahan gas terbesar di dunia, terdiri dari lima pabrik dengan total kapasitas 6,1 miliar kaki kubik standar per hari (bscfd), menurut ADNOC. (haninmazaya/arrahmah.id)