Memuat...

Iran Tak Gentar Pakta Mekkah, Soroti Pergeseran Keamanan Regional

Hanoum
Selasa, 11 Agustus 2026 / 28 Safar 1448 03:09
Iran Tak Gentar Pakta Mekkah, Soroti Pergeseran Keamanan Regional
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei. [Foto: MFA]

TEHERAN (Arrahmah.id) -- Iran menyatakan tidak melihat alasan untuk mengkhawatirkan Pakta Pertahanan Bersama Mekkah yang ditandatangani Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Teheran menilai kesepakatan tersebut justru menunjukkan perubahan pendekatan negara-negara kawasan yang mulai mengandalkan kemampuan sendiri untuk menjaga keamanan, bukan bergantung pada kekuatan asing.

Dilansir Tasnim (10/8/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran tidak menganggap kesepakatan tersebut secara otomatis diarahkan untuk menghadapi Iran.

Menurut dia, dalam konferensi pers di Teheran pada Senin (10/8), yang lebih penting adalah bagaimana pakta itu dirancang dan ancaman apa yang hendak dihadapi.

“Tidak ada alasan bagi kami untuk khawatir bahwa pakta baru antara Pakistan, Turki, dan Arab Saudi ditujukan terhadap Teheran,” kata Baghaei, seperti dikutip Reuters.

Dalam penjelasan Iran, perubahan tersebut merupakan bagian dari kecenderungan negara-negara Timur Tengah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka sendiri.

Baghaei mengatakan Iran selama ini telah menyerukan kerja sama keamanan antarnegeri kawasan tanpa ketergantungan pada aktor eksternal.

Media Iran Tasnim juga melaporkan bahwa Teheran melihat kesepakatan Mekkah sebagai tanda perubahan cara pandang negara-negara regional terhadap persoalan keamanan.

Iran sekaligus memberikan syarat terhadap setiap inisiatif keamanan regional. Baghaei menyatakan bahwa sebuah mekanisme akan lebih berpeluang memperkuat stabilitas apabila memperhitungkan kondisi geopolitik dan sejarah kawasan, bersifat inklusif, serta mampu mengidentifikasi sumber ancaman menurut perspektif negara-negara kawasan.

Dalam pernyataan yang mencerminkan posisi politik Teheran, ia juga menyebut Israel sebagai “musuh Zionis” dan menuduh Israel serta sekutunya sebagai salah satu sumber ketidakamanan regional.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran memilih tidak menentang pakta secara terbuka, tetapi berusaha membingkainya sebagai bagian dari kecenderungan menuju kemandirian keamanan regional. Sikap ini berbeda dari anggapan bahwa pembentukan kerja sama pertahanan Saudi-Turki-Pakistan secara otomatis akan menghasilkan blok anti-Iran.

Dari sisi negara penandatangan, ketiga pemerintah menekankan karakter pertahanan pakta tersebut. Kesepakatan itu memperkuat kerja sama militer antara Riyadh, Ankara, dan Islamabad serta memberikan komitmen pertahanan bersama.

Pakta Mekkah juga muncul setelah hubungan keamanan kawasan mengalami perubahan signifikan. Sebelumnya, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Mesir telah terlibat dalam mekanisme konsultasi regional.

Dalam pertemuan para menteri luar negeri keempat negara di Kairo pada Juni 2026, mereka bahkan menyambut nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang dipandang sebagai langkah menuju de-eskalasi.

Bagi Iran, perkembangan terbaru itu membuka dua kemungkinan sekaligus: kerja sama pertahanan regional dapat menjadi sarana bagi negara-negara Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat dan kekuatan eksternal, tetapi juga dapat mengubah kalkulasi strategis Teheran apabila kerja sama tersebut berkembang menjadi blok militer dengan orientasi tertentu.

Untuk saat ini, pemerintah Iran memilih menyatakan bahwa pakta tersebut bukan sesuatu yang perlu ditakuti, sembari menegaskan bahwa keamanan kawasan harus dibangun oleh negara-negara regional sendiri. (hanoum/arrahmah.id)