JENEWA (Arrahmah.id) - Pengumuman mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa kesepakatan dengan Iran kini telah selesai dengan sukses menjadi titik balik geopolitik terbesar di Timur Tengah dalam satu dekade terakhir. Namun, di balik senyuman diplomatik dan anjloknya harga minyak dunia, dokumen draf Nota Kesepahaman (MoU) yang akan diteken di Jenewa, Swiss, pada Jumat (19/6/2026) ternyata menyimpan ketegangan luar biasa yang hampir meledakkan perang regional total hanya beberapa jam sebelum kesepakatan diketuk.
Berdasarkan laporan investigasi internal, draf perdamaian ini nyaris kolaps total pada Ahad (14/6). Serangan udara brutal 'Israel' yang menyasar wilayah Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut sempat membuat para petinggi di Teheran naik pitam.
Pemerintah Iran secara mendadak mengumumkan pembekuan total seluruh jalur negosiasi unilateral pasca-ledakan bom akibat serangan 'Israel' di Beirut, seraya memerintahkan pasukannya untuk bersiap meluncurkan serangan balasan militer langsung ke jantung kota Tel Aviv.
Menghadapi risiko runtuhnya draf perdamaian secara total, diplomasi kilat 17 jam segera dilancarkan di mana delegasi Qatar langsung terbang menuju Teheran untuk menggelar maraton negosiasi darurat tanpa henti, yang diperkuat oleh komunikasi diplomatik intensif dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Ketegangan global ini akhirnya mereda setelah adanya konsesi darurat dari Donald Trump yang turun tangan langsung memberikan jaminan di detik-detik terakhir; intervensi tersebut memaksa draf baru memasukkan klausul mutlak yang menjamin kedaulatan, keutuhan wilayah Lebanon, serta penarikan mundur pasukan 'Israel' dari wilayah Lebanon Selatan, yang pada akhirnya berhasil menahan Iran untuk tidak menggempur posisi 'Israel'.
Meski kedua negara sepakat menghentikan perang di semua front mulai Senin (15/6) dini hari, perang klaim dan disinformasi media justru pecah terkait mekanisme pencairan dana dan pencabutan sanksi ekonomi.
Tarik-ulur mengenai protokol keuangan dalam draf perdamaian ini memicu perdebatan sengit antara klaim sepihak Teheran melalui Kantor Berita Tasnim dan bantahan keras Washington via Axios. Berdasarkan "Band 13" (Klausul 13) yang dirilis pihak Iran, mereka menetapkan syarat pembukaan selat di mana Teheran baru akan membuka Selat Hormuz dan melanjutkan negosiasi perjanjian final jika sanksi ekspor minyak bumi serta petrokimia mereka dicabut sepenuhnya. Iran juga menuntut agar negosiasi final selama 60 hari ke depan wajib diawali dengan pencairan aset dibekukan berupa dana segar milik mereka yang selama ini disita di luar negeri.
Sebaliknya, Washington langsung menerapkan prinsip pay-for-performance yang sangat ketat, di mana pejabat tinggi Amerika Serikat menegaskan bahwa klaim Iran yang mengaku telah mendapatkan uang sitaan sebesar 12 miliar dolar AS secara cuma-cuma sebelum negosiasi dimulai merupakan sebuah bentuk manipulasi media belaka. Secara tegas dan tanpa kompromi, pihak AS menyatakan tidak akan ada satu dolar pun uang beku yang akan cair ke tangan Teheran jika Iran tidak terlebih dahulu menunjukkan tindakan nyata dan kepatuhan penuh di lapangan sesuai dengan poin-poin kesepakatan.
Sikap asli Donald Trump dibongkar oleh harian The New York Times. Dalam sebuah pernyataan tertutup, Trump memberikan peringatan keras bahwa jika perundingan teknis lanjutan selama 60 hari ke depan gagal membuahkan Perjanjian Nuklir Final, AS tidak akan ragu meluncurkan kembali serangan militer penuh ke Teheran.
"Jika perjanjian ini gagal, alternatifnya adalah perang atau Washington akan mengambil alih penuh tanggung jawab keamanan di Timur Tengah, dengan syarat AS berhak mendapatkan potongan 20 persen dari seluruh total pendapatan (kekayaan) wilayah Timur Tengah," cetus Donald Trump.
Trump juga meluapkan kekesalannya terhadap Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu yang disebutnya sebagai sosok yang sangat keras kepala dan sulit diatur. Trump menegaskan bahwa operasi militer 'Israel' yang ugal-ugalan nyaris menyabotase kesepakatan damai global ini, dan mengingatkan bahwa tanpa payung politik luar negeri Amerika Serikat, kepemilikan senjata nuklir Iran akan menjadi akhir dari riwayat berdirinya negara 'Israel'.
Kini, fokus dunia tertuju pada jaminan pembukaan Selat Hormuz secara gratis per Jumat ini (19/6). Iran dilaporkan tengah menggandeng Kesultanan Oman untuk merumuskan aturan hukum maritim baru di kawasan Teluk.
Para analis internasional menyimpulkan, jika nota kesepahaman ini mampu bertahan dari sabotase politik internal 'Israel' dan ketidakpercayaan kronis antara AS-Iran, maka dunia akan melihat peta baru Timur Tengah yang bergerak ke arah stabilitas ekonomi, di mana perdagangan minyak dunia tidak lagi disandera oleh moncong rudal. (zarahamala/arrahmah.id)
