Memuat...

Ratusan Siswa dan Guru di Surabaya Diduga Keracunan Massal usai Santap Menu MBG, Operasional Dapur Dihentikan

Ameera
Senin, 11 Mei 2026 / 24 Zulkaidah 1447 21:17
Ratusan Siswa dan Guru di Surabaya Diduga Keracunan Massal usai Santap Menu MBG, Operasional Dapur Dihentikan
Ratusan Siswa dan Guru di Surabaya Diduga Keracunan Massal usai Santap Menu MBG, Operasional Dapur Dihentikan

SURABAYA (Arrahmah.id) - Ratusan siswa hingga guru dari belasan sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (11/5/2026).

Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg Tyas Pranadani, mengatakan hingga saat ini tercatat hampir 200 siswa mengalami gejala keracunan.

Para korban kini mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA Ikatan Bidan Indonesia Surabaya.

“Sejauh ini yang kita dapatkan datanya hampir 200 siswa mengalami gejala keracunan,” kata Tyas saat ditemui di RSIA IBI Surabaya.

Menurutnya, para siswa tersebut berasal dari sekitar 12 sekolah berbeda di Kecamatan Bubutan, mulai dari tingkat TK, SD hingga SMP.

Seluruh sekolah diketahui menerima distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh.

“Ada beberapa sekolah dari satu SPPG itu memang semua dikirimi makanan ini mengeluh, hampir semuanya mengeluh. Jadi total itu sekitar 12 sekolah yang di dapur sama,” ujarnya.

Tyas menjelaskan, para siswa mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, sakit perut hingga lemas setelah menyantap menu MBG yang terdiri dari daging krengsengan, tahu goreng, tumis wortel dan buncis, nasi putih, serta buah jeruk.

“Gejalanya mual dan muntah kebanyakan sih, jadi pusing, mual, muntah setelah makan makanan dari MBG,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian besar siswa mengeluhkan menu daging krengsengan yang baru pertama kali diberikan oleh pihak SPPG.

Namun hingga kini, pihak kesehatan belum dapat memastikan sumber pasti penyebab keracunan tersebut.

“Masih belum tahu ya dari makanan apa, masih kita cek ulang. Sampel sudah kami ambil di lokasi, kemudian masih akan kami cek di BBLK,” ujar Tyas.

Salah seorang siswa kelas IV SD Raden Wijaya Tembok Dukuh, Gibran Pratama, mengaku mengalami sakit perut setelah menyantap menu daging dalam paket MBG tersebut. Ia menyebut aroma makanan normal, tetapi rasanya terasa pahit seperti obat.

“Murus-murus, rasanya itu kayak obat, pahit, baunya enak, tapi rasanya kayak obat,” kata Gibran.

Karena merasa aneh dengan rasanya, Gibran tidak menghabiskan makanannya dan membawa pulang sisa menu tersebut. Namun makanan itu kemudian dibuang oleh ibunya karena khawatir membahayakan.

Sementara itu, pihak SPPG Tembok Dukuh menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh siswa dan guru yang terdampak. Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla, memastikan pihaknya akan bertanggung jawab penuh terhadap biaya pengobatan para korban.

“Saya sebagai kepala SPPG Tembok Dukuh Bubutan mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang terdampak, kepada siswa dan juga guru yang kena keracunan karena makanan kita,” ujar Chafi.

Ia mengakui banyak menerima laporan soal keluhan sakit perut setelah siswa menyantap menu daging krengsengan. Meski demikian, Chafi mengklaim seluruh proses pengolahan makanan telah dilakukan sesuai standar.

“Dagingnya enggak basi. Mungkin dari pengolahannya atau dari waktu bahan datangnya. Karena memang daging itu bahan yang sangat riskan,” katanya.

Menurut Chafi, proses memasak dimulai sejak pukul 23.00 WIB hingga dini hari sehingga makanan diyakini masih dalam kondisi layak konsumsi saat dibagikan kepada siswa pada Senin pagi.

SPPG Tembok Dukuh sendiri telah beroperasi sejak Februari 2026 dan melayani 13 sekolah dengan kapasitas sekitar 3.020 porsi makanan per hari.

Namun setelah muncul laporan dugaan keracunan, distribusi makanan dikurangi menjadi sekitar 2.000 porsi.

Akibat insiden tersebut, pihak SPPG memutuskan menghentikan sementara seluruh operasional sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan.

“Kita berhenti operasional, kita evaluasi dulu sampai semua benar-benar baik baru kita lihat kelanjutannya seperti apa,” ujar Chafi.

Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya langsung turun ke lokasi untuk melakukan evaluasi setelah menerima laporan dugaan keracunan massal tersebut.

“Kami langsung ke sini menindaklanjuti dan evaluasi. Kami arahkan jeda distribusi yang berkelanjutan,” kata Teguh.

Pihak Badan Gizi Nasional juga memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Tembok Dukuh hingga hasil laboratorium keluar.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab insiden tersebut sebelum hasil pemeriksaan laboratorium diumumkan.

“Kita tidak bisa menjustifikasi si A salah, si B enggak,” kata Armuji.

Meski demikian, ia menilai kondisi dapur dan kebersihan di lokasi pengolahan makanan SPPG Tembok Dukuh secara umum sudah memenuhi standar kesehatan dan sanitasi.

“Kitchen-nya, tempat pengolahan, tempat pencucian ompreng secara umum sudah memenuhi standar semua. Jadi sangat bersih,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)