Memuat...

Sekjen CIS: Mengisolasi Afghanistan Bukanlah Solusi

Hanin Mazaya
Sabtu, 27 Juni 2026 / 12 Muharam 1448 17:27
Sekjen CIS: Mengisolasi Afghanistan Bukanlah Solusi
(Foto: Tolo News)

KABUL (Arrahmah.id) - Di tengah meningkatnya keterlibatan regional dengan Afghanistan, Sekretaris Jenderal Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) mengatakan bahwa mengisolasi negara tersebut bukanlah solusi dan hanya akan berujung pada jalan buntu.

Berbicara pada Forum Ilmiah dan Pakar Internasional Primakov Readings ke-12, Sergey Lebedev menekankan bahwa negara-negara anggota CIS harus mempertahankan dialog pragmatis dengan otoritas Afghanistan dan mendorong mereka untuk memerangi ISIS-K dan perdagangan narkoba.

Ia juga menekankan bahwa keamanan regional tidak dapat dipastikan tanpa partisipasi Afghanistan dalam proyek-proyek ekonomi dan transit Eurasia, lansir Tolo News (27/6/2026).

Sergey Lebedev, Sekretaris Jenderal CIS, mengatakan: "Kami sepenuhnya memahami bahwa mengisolasi Kabul adalah jalan buntu. Keamanan regional tidak mungkin tanpa partisipasi Afghanistan dalam proyek-proyek ekonomi dan transit Eurasia. Negara-negara CIS mempertahankan dialog pragmatis dengan otoritas de facto Afghanistan dan mendorong mereka untuk memerangi ISIS-K dan produksi narkotika."

Analis politik Maiwand Jurat mengatakan: "Jika mereka menindaklanjuti pendekatan ini, hal itu akan berdampak positif pada pembangunan Afghanistan, serta pada keamanan dan kemakmuran regional."

Analis politik lainnya, Khalil Ahmad Nadem, mengatakan: "Pertumbuhan ekonomi regional tidak mungkin terjadi tanpa Afghanistan. Itulah mengapa negara-negara ini menganggap penting Afghanistan, karena negara ini menempati posisi sentral di kawasan tersebut."

Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) saat ini terdiri dari sembilan anggota penuh dan satu anggota asosiasi, termasuk Rusia, Belarus, Armenia, Azerbaijan, Moldova, dan republik-republik Asia Tengah.

Imarah Islam Afghanistan menjalin hubungan diplomatik dengan sebagian besar negara anggota CIS. Namun, kecuali Rusia, tidak satu pun dari negara-negara ini yang secara resmi mengakui Imarah Islam sebagai pemerintah Afghanistan. (haninmazaya/arrahmah.id)