TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mendapat sorakan dan seruan agar mundur dari jabatannya saat menghadiri upacara kelulusan perwira tempur Angkatan Bersenjata Israel (IDF). Insiden itu terjadi di Akademi Perwira Bahad 1, Israel selatan, pada Kamis (25/6/2026), ketika Netanyahu tengah menyampaikan pidato di hadapan para lulusan, keluarga, serta pejabat militer senior.
Dilansir Yedioth Ahronoth (26/6/2026), teriakan "Go home!" atau "Pulang saja!" terdengar dari sebagian hadirin beberapa menit setelah Netanyahu memulai pidatonya. Seruan tersebut disusul tepuk tangan dari sebagian peserta, meski tidak lama kemudian terdengar pula sorakan dukungan kepada Netanyahu dari kelompok lain yang meneriakkan "Go Bibi!", julukan akrab sang perdana menteri.
Netanyahu memilih melanjutkan pidatonya tanpa menanggapi langsung gangguan tersebut.
Insiden itu terjadi ketika Netanyahu berbicara mengenai pengalaman para lulusan akademi militer yang terlibat dalam operasi di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa 'Israel' masih berada di tengah konflik regional yang belum berakhir dan menyatakan pemerintahannya akan tetap mempertahankan tekanan terhadap musuh-musuh 'Israel'.
“Kami berada di puncak perang regional yang masih berlangsung. Kami telah mengubah aturan permainan di kawasan, mematahkan tembok ketakutan, dan membuktikan kekuatan Israel,” kata Netanyahu dalam pidatonya.
Di bagian lain pidatonya, Netanyahu juga menegaskan, “Dengan atau tanpa kesepakatan, selama saya menjadi Perdana Menteri 'Israel', Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.”
Upacara kelulusan tersebut turut dihadiri Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz dan Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir. Dalam kesempatan yang sama, Katz kembali menegaskan bahwa pasukan 'Israel' akan tetap mempertahankan keberadaan militernya di zona penyangga di Lebanon selatan, Suriah, dan Jalur Gaza selama masih dianggap diperlukan untuk kepentingan keamanan nasional.
Sorakan terhadap Netanyahu muncul di tengah meningkatnya tekanan politik yang dihadapinya. Dalam beberapa bulan terakhir, demonstrasi anti-pemerintah terus berlangsung di berbagai kota di 'Israel'. Para pengunjuk rasa menuntut Netanyahu mengundurkan diri, menggelar pemilu lebih awal, serta menilai pemerintah gagal menangani dampak perang dan krisis penyanderaan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Dalam pidatonya, Netanyahu kembali menekankan pentingnya kemandirian pertahanan 'Israel'. Ia mengatakan negaranya harus mampu membebaskan diri dari ketergantungan terhadap persenjataan Amerika Serikat dengan memperkuat industri pertahanan dalam negeri, meskipun tetap mempertahankan hubungan strategis dengan Washington.
(hanoum/arrahmah.id)
