TEHERAN (Arrahmah.id) - Eskalasi militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang terjadi pada Jumat malam (26/6/2026) diyakini oleh para pengamat sebagai tindakan terukur yang bertujuan untuk menjaga status quo, bukan eskalasi menuju perang terbuka. Serangan udara AS terhadap fasilitas Iran di Sirik, dekat Selat Hormuz, dipandang sebagai penerapan doktrin "mata ganti mata" (an eye for an eye).
Menurut pakar militer Kolonel Nidal Abu Zeid, meskipun wilayah tersebut pernah disasar sebelumnya, target yang dihancurkan dalam serangan kali ini memiliki nilai militer yang sangat tinggi.
Analisis terhadap target tersebut mencakup fasilitas radar dan komunikasi berupa menara pemantau yang memiliki peran krusial dalam mengarahkan pesawat nirawak (drone) Iran, serta situs artileri pesisir yang mampu menjangkau target hingga jarak 40 kilometer, yang mencakup jalur pelayaran kapal komersial di Selat Hormuz.
Selain itu, tingkat presisi operasional yang terlihat dari serangan yang dilancarkan oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dari jarak 250 kilometer dari pantai Iran menunjukkan bahwa pergerakan kapal induk tersebut pada hari Kamis sebelumnya merupakan langkah operasional yang terencana, bukan sekadar rotasi rutin.
AS menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons atas tindakan Iran yang menargetkan sebuah kapal komersial di jalur pelayaran baru yang disediakan oleh Oman. Washington menuduh perilaku Iran telah merusak kebebasan navigasi di tengah meningkatnya arus perdagangan di Selat Hormuz.
Pernyataan seorang pejabat AS kepada Fox News bahwa operasi militer telah berakhir mengindikasikan bahwa Washington ingin membatasi konflik agar tidak meluas. Namun, kondisi ini menempatkan Iran dalam posisi untuk menentukan arah selanjutnya.
Ketegangan ini berakar pada persaingan otoritas atas Selat Hormuz. Sebelumnya, IRGC secara tegas memperingatkan agar tidak menggunakan jalur pelayaran alternatif di selat tersebut, dengan menyatakan bahwa jalur apa pun di luar yang ditentukan oleh Iran adalah berbahaya.
Hingga saat ini, stabilitas regional tetap berada dalam titik nadir, bergantung sepenuhnya pada kalkulasi politik dan militer di ibu kota masing-masing. (zarahamala/arrahmah.id)
