GAZA (Arrahmah.id) — Sejumlah warganet mengenang satu tahun wafatnya Hudzaifah al-Kahlout atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Ubaidah, mantan juru bicara militer Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas. Abu Ubaidah gugur dalam serangan udara "Israel" di Kota Gaza.
Peringatan satu tahun wafatnya Abu Ubaidah berlangsung pada Ahad, 30 Agustus 2026, dengan berbagai unggahan di media sosial. Para pengguna platform digital mengenang sosok yang selama bertahun-tahun dikenal tampil dengan wajah tertutup keffiyeh merah ketika menyampaikan pernyataan terkait perkembangan perang di Gaza.
Dengan mengusung slogan “Wa innahu lijihadun nashrun aw istisyhad” (Sesungguhnya ia adalah jihad, kemenangan atau kesyahidan), para warganet kembali membagikan perkataan dan rekaman pernyataan Abu Ubaidah yang dianggap berkaitan dengan berbagai fase penting dalam perang Gaza sejak peristiwa 7 Oktober 2023.
Keluarga Abu Ubaidah juga turut mengenang satu tahun kepergiannya melalui media sosial, lansir Al Jazeera.
Saudaranya, Suhaib al-Kahlout, menulis pesan yang menggambarkan kesedihan dan kerinduan atas kepergian sang saudara, disertai sikap menerima ketetapan Allah. Ia juga mendoakan agar Abu Ubaidah memperoleh tempat terbaik di surga serta memohon rahmat bagi seluruh syuhada.
Sementara itu, Ibrahim al-Kahlout, putra Abu Hudzaifah, mengunggah sebuah video yang memperlihatkan keffiyeh yang biasa dikenakan Abu Ubaidah ketika menyampaikan pidato dan pernyataannya.
Hamas kenang Abu Ubaidah
Hamas turut memperingati satu tahun wafatnya Abu Ubaidah. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut 30 Agustus sebagai peringatan tahunan wafatnya komandan dan juru bicara Brigade Syahid Izzuddin al-Qassam, Hudzaifah al-Kahlout “Abu Ubaidah”.
Menurut Hamas, Abu Ubaidah memiliki suara dan kehadiran yang sangat terkait dengan salah satu fase penting dalam sejarah rakyat Palestina. Suaranya disebut terus menggema dalam ingatan banyak orang.
Hamas juga menggambarkan Abu Ubaidah sebagai sosok yang melalui suara lantangnya dan keffiyeh merahnya menjadi salah satu simbol perlawanan Palestina yang menginspirasi jutaan orang.
Peringatan tersebut kemudian mendapat respons luas di media sosial. Banyak pengguna mengungkapkan kesedihan atas kepergian Abu Ubaidah sekaligus mengenang pengaruhnya terhadap persepsi publik mengenai Gaza selama perang.
Sejumlah unggahan menyebut 30 Agustus bukan sekadar tanggal berlalu, tetapi menjadi penanda kepergian seorang tokoh yang selama ini menyampaikan pesan dari Gaza kepada dunia.
Meski sosok yang dikenal sebagai “pria bertopeng” tersebut telah wafat, para pengikutnya menilai kepergiannya justru membuat pernyataan-pernyataan yang pernah disampaikannya semakin sering dikenang.
Kenangan terhadap kemunculan Abu Ubaidah
Salah satu pengguna media sosial mengungkapkan bahwa setahun telah berlalu sejak kepergian sosok yang menurutnya bukan sekadar suara dari balik penutup wajah.
Ia menggambarkan Abu Ubaidah sebagai suara Gaza ketika dunia terasa semakin sempit bagi rakyat Palestina akibat penderitaan dan blokade.
“Setahun telah berlalu, tetapi kepergian tidak menghapus kehadiran,” tulisnya dalam unggahan yang dibagikan di media sosial.
Pengguna lainnya mengklaim bahwa kemunculan pertama Abu Ubaidah terjadi pada 2004. Ia mengenang saat menyaksikan kemunculan tersebut bersama ayahnya dan terkesan dengan kemampuan berbicara serta kefasihan bahasa Arab yang dimiliki Abu Ubaidah.
Dalam unggahannya, ia menggambarkan suara Abu Ubaidah sebagai suara yang terus dikenang dalam perjalanan konflik Palestina.
Berbagai unggahan yang beredar kemudian menyimpulkan bahwa Abu Ubaidah bagi banyak pengikutnya bukan sekadar seorang juru bicara militer yang tampil dengan wajah tertutup.
Ia telah menjadi bagian dari citra komunikasi Hamas selama perang Gaza dan sosok yang dikenal luas karena pernyataan-pernyataannya mengenai perkembangan pertempuran.
Setahun setelah wafatnya, para pengguna media sosial masih mendoakan Abu Ubaidah dan para korban perang di Gaza. Mereka juga mengungkapkan harapan agar perjuangan dan penderitaan rakyat Palestina tidak dilupakan.
(Samirmusa/arrahmah.id)
