Memuat...

Somalia Ancam Tutup Selat Bab el-Mandeb, Ikuti Eskalasi Hormuz

Hanoum
Senin, 20 April 2026 / 3 Zulkaidah 1447 03:58
Somalia Ancam Tutup Selat Bab el-Mandeb, Ikuti Eskalasi Hormuz
Peta Somalia. [Foto: X]

MOGADISHU (Arrahmah.id) -- Pemerintah Somalia mengeluarkan pernyataan keras terkait potensi penutupan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, sebagai respons atas dinamika geopolitik yang melibatkan 'Israel' dan konflik regional yang semakin meluas pada April 2026.

Dilansir FTL Somalia (19/4/2026), ancaman tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan diplomatik terkait isu hubungan 'Israel' dengan Somaliland, yang ditolak keras oleh Somalia. Dalam konteks ini, pemerintah Somalia memperingatkan akan mengambil langkah strategis, termasuk kemungkinan membatasi atau menutup akses ke selat tersebut.

Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi rute utama perdagangan global serta distribusi energi. Sekitar jutaan barel minyak melintasi jalur ini setiap hari, menjadikannya titik krusial dalam stabilitas ekonomi dunia.

Seorang pejabat pemerintah Somalia menyatakan, “Kami tidak akan tinggal diam terhadap pelanggaran kedaulatan kami. Semua opsi, termasuk tindakan di Selat Bab el-Mandeb, sedang dipertimbangkan,”

Langkah ini dinilai sejalan dengan eskalasi yang lebih luas di kawasan, terutama setelah Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan Amerika Serikat. Sejumlah analis menilai adanya potensi “efek domino” di jalur pelayaran strategis dunia.

Laporan Saxafi Media menyebut bahwa ancaman Somalia ini meningkatkan kekhawatiran global, mengingat Bab el-Mandeb merupakan chokepoint penting kedua setelah Hormuz dalam rantai distribusi energi dunia. Gangguan di kedua jalur tersebut berpotensi memicu krisis pasokan dan lonjakan harga energi global.

Namun, sejumlah pengamat juga meragukan kemampuan Somalia untuk benar-benar menutup jalur tersebut secara efektif, mengingat keterbatasan kapasitas militer dan pengawasan maritim negara tersebut. Meski demikian, pernyataan ini tetap dipandang sebagai sinyal politik yang kuat dalam konteks konflik regional.

Seorang analis keamanan kawasan menyatakan, “Ancaman ini lebih bersifat geopolitik daripada operasional, tetapi tetap memiliki dampak besar terhadap persepsi risiko global,”

Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Timur, yang saling terhubung melalui jalur perdagangan laut strategis. Komunitas internasional kini memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global dan keamanan maritim.

Jika benar terjadi, penutupan Bab el-Mandeb akan memperburuk kondisi perdagangan dunia yang уже tertekan akibat konflik di Selat Hormuz, serta meningkatkan risiko gangguan besar pada rantai pasok global. (hanoum/arrahmah.id)