WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat kembali menjadi sasaran kritik terkait gaya kepemimpinannya. Kolumnis senior The New York Times, , menilai Trump memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan politik, sehingga menjauh dari semangat persatuan yang menjadi fondasi berdirinya Amerika Serikat.
Dalam kolomnya yang dikutip Al Jazeera, Friedman menyebut Amerika dibangun di atas prinsip-prinsip yang tertuang dalam Deklarasi Kemerdekaan, Konstitusi, dan Bill of Rights. Menurutnya, negara itu didirikan untuk seluruh rakyat, bukan untuk kepentingan satu kelompok atau seorang pemimpin.
Sebagai gambaran, Friedman mengangkat lagu patriotik legendaris karya berjudul This Land Is Your Land, yang selama puluhan tahun menjadi simbol persatuan dan kepemilikan bersama atas Amerika.
Ia menceritakan suasana peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat di Museum Planet Word, Washington, yang mempertemukan ratusan warga dari berbagai latar belakang. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu tersebut sebagai simbol persatuan nasional yang, menurut Friedman, semakin sulit ditemukan dalam kehidupan politik Amerika saat ini.
Namun, ia membandingkan suasana tersebut dengan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika pada 4 Juli yang dipimpin Trump. Berdasarkan laporan media, acara itu dinilai lebih menyerupai panggung kampanye politik dibanding perayaan nasional.
Dalam pidatonya, Trump disebut lebih banyak menyerang Partai Demokrat, menghidupkan kembali isu ancaman komunisme, mengkritik lawan-lawan politiknya, serta mendorong pengetatan aturan pemungutan suara.
Friedman menilai pendekatan itu menunjukkan bahwa Trump tidak berusaha menjadi presiden bagi seluruh rakyat Amerika, melainkan hanya berbicara kepada basis pendukungnya. Menurutnya, pola tersebut telah menjadi ciri khas kepemimpinan Trump yang cenderung membelah masyarakat ke dalam dua kubu yang saling berhadapan.
Soroti Dugaan Kepentingan Finansial
Friedman juga menyoroti aspek yang ia anggap paling penting, yakni kepentingan finansial Trump.
Ia mengutip laporan yang menyebut sekitar satu juta orang membeli mata uang kripto yang menggunakan nama Trump. Hingga akhir Juni, para investor disebut mengalami kerugian sekitar 3,81 miliar dolar AS.
Di sisi lain, berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Trump, mantan presiden itu disebut memperoleh keuntungan besar dari proyek tersebut, selain pendapatan dari berbagai aktivitas bisnis lainnya.
Friedman menambahkan bahwa Trump secara langsung mempromosikan aset kripto tersebut melalui media sosial dan mengajak masyarakat untuk membelinya serta bergabung dengan "komunitas khusus" yang dibangunnya.
Menurutnya, fakta itu membuat persoalan tersebut tidak lagi sekadar tuduhan penyalahgunaan jabatan, tetapi juga berkaitan dengan kerugian nyata yang dialami banyak investor, termasuk sebagian pendukung Trump sendiri.
Ia pun mempertanyakan apakah loyalitas para pendukung Trump akan tetap bertahan apabila mereka menyadari bahwa mereka juga menjadi pihak yang mengalami kerugian finansial.
Seruan bagi Partai Demokrat
Dalam tulisannya, Friedman juga memberikan saran kepada Partai Demokrat menjelang pemilu mendatang. Ia meminta partai tersebut memusatkan kampanye pada dua pesan utama, yakni mengungkap dugaan pemanfaatan jabatan oleh Trump demi keuntungan pribadi serta menawarkan visi untuk mempersatukan kembali masyarakat Amerika.
Ia menilai keinginan publik terhadap persatuan nasional kini menjadi kekuatan politik yang semakin besar. Friedman mengutip sejumlah survei yang menunjukkan semakin banyak warga Amerika tidak lagi merasa terikat dengan dua partai politik utama.
Sebagai penutup, ia mengutip pidato mantan Presiden yang mengajak masyarakat melawan polarisasi, kemarahan yang diperkuat media sosial dan algoritma, serta menegaskan pentingnya demokrasi, partisipasi warga, saling menghormati, dan kerja sama dalam membangun masa depan Amerika Serikat.
Friedman menegaskan bahwa Partai Demokrat sebaiknya tidak terjebak dalam respons emosional atau retorika ekstrem, melainkan fokus meyakinkan publik bahwa Trump telah merugikan Amerika sambil memperoleh keuntungan pribadi, serta menawarkan agenda yang mampu mempersatukan kembali bangsa tersebut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
