Memuat...

Trump: 'Israel' akan Kehilangan Dukungan AS bila Caplok Tepi Barat

Hanoum
Jumat, 24 Oktober 2025 / 3 Jumadilawal 1447 03:39
Trump: 'Israel' akan Kehilangan Dukungan AS bila Caplok Tepi Barat
Sampul Majalah TIME Presiden AS Donald Trump dengan latar belakang tentara Israel yang beroperasi di Tepi Barat. [Foto: Time/JPost/Flash90]

WASHINTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas bahwa 'Israel' akan kehilangan dukungan krusial dari Amerika Serikat jika nekat mencaplok Tepi Barat.

Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara telepon dengan majalah Time pada 15 Oktober, yang dipublikasikan tepat ketika dua pejabat tinggi AS, Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, juga sedang memperingatkan 'Israel' untuk tidak melakukan aneksasi.

"Israel akan kehilangan seluruh dukungan dari Amerika Serikat jika itu terjadi," ujar Trump, seperti dikutip TRT World (23/10/2025). Pernyataan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam sikap AS yang biasanya tanpa syarat mendukung 'Israel'.

Secara militer dan strategis, 'Israel' sangat membutuhkan dukungan Amerika Serikat untuk menjaga superioritas militernya di kawasan Timur Tengah yang penuh gejolak.

Bantuan militer AS, yang mencapai miliaran dolar per tahun, tidak hanya menyediakan persenjataan canggih seperti jet tempur F-35 dan sistem pertahanan rudal Iron Dome, tetapi juga menjamin interoperabilitas antara angkatan bersenjata kedua negara melalui latihan militer gabungan.

Kerja sama intelijen yang erat antara badan-badan intelijen AS dan 'Israel' juga krusial dalam menghadapi ancaman teroris dan intelijen dari musuh-musuh regional. Dukungan ini memungkinkan Israel untuk mempertahankan keunggulan teknologi dan kapabilitas militer yang vital bagi keamanan nasionalnya.

Selain itu, 'Israel' juga sangat mengandalkan Amerika Serikat untuk dukungan diplomatik di panggung internasional. AS secara rutin menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan resolusi yang dianggap merugikan 'Israel', melindungi Israel dari kecaman global, dan memastikan bahwa sanksi atau tindakan diplomatik internasional terhadap 'Israel' sulit terwujud.

Perlindungan diplomatik ini memberi 'Israel' ruang gerak untuk melaksanakan kebijakan luar negerinya tanpa menghadapi tekanan yang terlalu besar dari komunitas internasional.

Secara politik, dukungan yang kuat dari Washington juga meningkatkan legitimasi 'Israel' di mata banyak negara dan mempromosikan hubungan baik antara 'Israel' dan negara-negara Arab lainnya, seperti yang terlihat dalam Perjanjian Abraham. (hanoum/arrahmah.id)