Memuat...

Intelijen 'Israel' Bongkar Siasat Eksekusi Al-Haddad, Sempat Tertunda Karena Protokol Tawanan

Zarah Amala
Kamis, 21 Mei 2026 / 5 Zulhijah 1447 10:45
Intelijen 'Israel' Bongkar Siasat Eksekusi Al-Haddad, Sempat Tertunda Karena Protokol Tawanan
Komandan Qassam di Jalur Gaza, Izz al-Din al-Haddad, yang dibunuh oleh 'Israel' pada Jumat, 15 Mei 2026 (Al Jazeera)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Surat kabar 'Israel' Yedioth Ahronoth mengungkap rincian operasi pembunuhan Komandan Brigade Izzuddin Al-Qassam di Jalur Gaza, Izzuddin Al-Haddad. Pihak militer mengklaim bahwa kesalahan fatal yang dilakukan Al-Haddad menjadi celah utama bagi jet tempur 'Israel' untuk mengeksekusinya melalui serangan udara, setelah berbulan-bulan menjadi target perburuan intensif.

Menurut laporan media tersebut, keputusan Al-Haddad untuk kembali ke sebuah apartemen rahasia milik keluarganya menjadi titik balik krusial yang dimanfaatkan oleh Angkatan Udara 'Israel'. Al-Haddad diidentifikasi oleh 'Israel' sebagai salah satu arsitek utama di balik serangan 7 Oktober 2023, yang juga memimpin upaya rekonstruksi kemampuan militer Al-Qassam selama perang berlangsung.

Sebelumnya, sumber-sumber militer 'Israel' kerap menjuluki Al-Haddad sebagai "hantu" karena kemampuannya yang dinilai sangat rapi dalam meloloskan diri dari berbagai upaya penargetan, bahkan sebelum perang pecah. Namun, satu pergerakan pada Jumat (15/5/2026) lalu mengakhiri pelariannya.

Alasan Penundaan Serangan: Dikepung Tawanan

Seorang perwira berpangkat Mayor di Direktorat Operasi Militer Israel (disamarkan sebagai "A") mengungkapkan bahwa pasukan 'Israel' sebenarnya telah beberapa kali berada dalam posisi yang sangat dekat untuk melenyapkan Al-Haddad di masa lalu. Namun, operasi selalu dibatalkan karena Al-Haddad dilaporkan "membentengi dirinya di sekitar para tawanan Israel".

"Perburuan terhadap dirinya semakin diintensifkan secara masif segera setelah proses pembebasan para tawanan 'Israel' di Jalur Gaza selesai dilakukan," ujar Mayor A.

Informasi intelijen yang menentukan diperoleh pada hari eksekusi, ketika Direktorat Intelijen Militer (Aman) dan Badan Keamanan Domestik (Shin Bet) mendeteksi pergerakan Al-Haddad menuju apartemen tersembunyi tersebut. Operasi pengawasan rahasia tingkat tinggi kemudian digelar guna memastikan target tetap berada di lokasi hingga perintah serangan ketuk palu.

Setelah proses verifikasi identitas selesai tanpa membocorkan operasi ke permukaan, rekomendasi eksekusi diajukan ke tingkat komando politik untuk mendapatkan pengesahan resmi. Bersamaan dengan serangan udara ke apartemen, jet 'Israel' juga menghancurkan sebuah mobil yang mencoba meninggalkan lokasi guna memastikan tidak ada asisten Al-Haddad yang lolos.

Profil Al-Haddad: Pemimpin Berpengaruh yang Fasih Berbahasa Ibrani

Meskipun masa jabatannya sebagai panglima tertinggi militer di Gaza tergolong singkat, hanya satu tahun dua hari pasca-gugurnya pimpinan terdahulu, Intelijen 'Israel' mengategorikan Al-Haddad sebagai figur sentral yang memiliki bobot ideologis kuat dan pengaruh besar dalam pengambilan keputusan, baik untuk domestik Gaza maupun dalam koordinasi dengan biro politik Hamas di luar negeri.

Seorang perwira riset di badan intelijen Aman berpangkat Letnan (disamarkan sebagai "Y") menjelaskan bahwa Al-Haddad memiliki pemahaman mendalam tentang lanskap internal 'Israel'. Kemampuan ini ia dapatkan dari pengalamannya selama mendekam di penjara-penjara 'Israel' serta penguasaannya yang fasih terhadap bahasa Ibrani.

"Kemampuannya untuk bertahan hidup selama dua setengah tahun di tengah kecamuk perang dan kemampuannya mengelola strategi pertempuran telah mendongkrak posisinya di internal gerakan, terutama dalam mengawal berkas negosiasi," ungkap Letnan Y.

Operasi pembunuhan ini terjadi di tengah momentum sensitif, di mana rencana perdamaian yang diusung Donald Trump untuk Gaza tengah mengalami kebuntuan diplomatic. Di sisi lain, Al-Haddad diketahui terus memimpin operasi taktis, melakukan perekrutan anggota baru, serta menggelar pelatihan militer terstruktur bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan. Langkah pembunuhan ini sengaja ditargetkan Israel untuk mencegah pemulihan total sayap militer Hamas tersebut.

Meskipun militer 'Israel' merayakan keberhasilan operasi ini, para pengamat menilai peta pertempuran di Gaza masih jauh dari kata selesai. Berdasarkan laporan Yedioth Ahronoth, Hamas bergerak cepat dengan langsung menunjuk perwira senior, Muhammad Audah, sebagai panglima baru Al-Qassam untuk menggantikan posisi Al-Haddad. (zarahamala/arrahmah.id)