BAMOKO (Arrahmah.id) -- Sejumlah kelompok afiliasi Al-Qaeda di berbagai kawasan mulai menjadikan perkembangan konflik dan pemerintahan baru di Suriah sebagai “cetak biru” atau model perjuangan mereka. Fenomena ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pengamat keamanan internasional terkait kebangkitan jaringan jihad global pasca perubahan politik besar di Suriah.
Dilansir Financial Times (24/05/2026) kelompok Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), cabang Al-Qaeda yang aktif di kawasan Sahel Afrika Barat, mulai mempelajari strategi kelompok-kelompok Islamis di Suriah yang berhasil memperluas pengaruh politik dan militer setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad. Kelompok itu disebut melihat Suriah sebagai contoh bagaimana gerakan jihad dapat bertransformasi menjadi kekuatan pemerintahan de facto.
Menurut para analis keamanan, kelompok-kelompok afiliasi Al-Qaeda kini berusaha menampilkan citra yang lebih terorganisir dan pragmatis dibanding pendekatan kelompok militan Islamic State ISIS di masa lalu. Mereka berupaya membangun dukungan lokal melalui pelayanan sosial, keamanan wilayah, dan pendekatan politik sambil tetap mempertahankan ideologi jihad global.
Dalam wawancara dengan Financial Times, analis senior International Crisis Group Wassim Nasr mengatakan kelompok-kelompok tersebut belajar dari pengalaman Suriah. Wassim Nasr menyatakan, “Mereka melihat Suriah sebagai contoh keberhasilan bagaimana sebuah kelompok jihad bisa bertahan dan mendapatkan legitimasi lokal.”
Media internasional melaporkan JNIM kini menjadi salah satu kelompok paling berpengaruh di Mali, Burkina Faso, dan Niger di tengah melemahnya kontrol pemerintah di kawasan Sahel. Kelompok itu memperluas wilayah operasi melalui serangan terhadap militer, perekrutan lokal, dan penguasaan jalur perdagangan pedalaman Afrika Barat.
Para pengamat juga menyoroti perubahan strategi kelompok jihad setelah konflik Suriah. Jika sebelumnya banyak kelompok ekstremis berfokus pada serangan global, kini sebagian lebih memilih memperkuat basis kekuasaan lokal terlebih dahulu sebelum memperluas pengaruh internasional.
Dalam laporan Financial Times, seorang pejabat keamanan Barat yang tidak disebutkan namanya memperingatkan bahwa model Suriah dapat menginspirasi kelompok jihad lain di Afrika dan Asia. Pejabat tersebut mengatakan, “Yang paling dikhawatirkan adalah munculnya pemerintahan jihad yang stabil dan mampu bertahan lama.”
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya juga memperingatkan meningkatnya aktivitas kelompok terkait Al-Qaeda di Afrika Barat dan Timur Tengah dalam laporan pemantauan terorisme terbaru. PBB menyebut instabilitas politik, konflik sipil, dan lemahnya pemerintahan menjadi faktor utama yang mempercepat pertumbuhan kelompok ekstremis tersebut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai kondisi Suriah tidak sepenuhnya dapat diterapkan di kawasan lain karena faktor geopolitik, dukungan asing, dan dinamika lokal yang berbeda. Namun perkembangan ini tetap dipandang sebagai ancaman serius bagi keamanan internasional, terutama di wilayah Afrika yang kini menjadi pusat baru aktivitas kelompok jihad global. (hanoum/arrahmah.id)
