Memuat...

Viral! Tangan Lebam Trump Picu Spekulasi, Ada yang Disembunyikan?

Samir Musa
Kamis, 7 Mei 2026 / 20 Zulkaidah 1447 22:14
Viral! Tangan Lebam Trump Picu Spekulasi, Ada yang Disembunyikan?
Foto yang beredar dari tangan Donald Trump saat sebuah acara di White House kembali memicu spekulasi tentang kondisi kesehatannya di media sosial (Associated Press).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Foto terbaru tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu spekulasi luas mengenai kondisi kesehatannya. Gambar yang beredar dari sebuah acara di White House menunjukkan perubahan warna pada kedua tangan serta dugaan memar yang mencolok.

Sorotan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pihak Gedung Putih pernah menjelaskan bahwa tanda-tanda tersebut berkaitan dengan penggunaan aspirin serta iritasi jaringan lunak akibat seringnya berjabat tangan.

Menurut laporan majalah Newsweek dikutip dari Al Jazeera, foto tersebut diambil saat Trump (79 tahun) menghadiri acara penghormatan bagi para ibu dari kalangan militer menjelang Hari Ibu, didampingi Ibu Negara Melania Trump.

Gambar itu dengan cepat menyebar di media sosial setelah jurnalis Aaron Rupar mengunggahnya di platform “X”, seraya menyoroti perubahan warna pada kedua tangan Trump, bahkan salah satunya tampak seperti mengalami memar. Dalam hitungan jam, unggahan tersebut ditonton lebih dari 1,3 juta kali.

Reaksi pun bermunculan, termasuk dari pihak-pihak yang berseberangan secara politik dengan Trump, di antaranya akun yang terkait dengan kantor Gubernur California, Gavin Newsom. Perdebatan yang mencuat berkisar pada satu pertanyaan utama: apakah pemerintah menyembunyikan sesuatu terkait kesehatan presiden, ataukah kondisi tersebut memang sesuai dengan penjelasan medis yang telah disampaikan sebelumnya?

Gedung Putih: Kondisi Baik

Di tengah polemik, Trump sendiri menegaskan bahwa kondisi fisiknya “sangat baik”. Gedung Putih juga tetap berpegang pada penjelasan medis sebelumnya.

Dalam memo kesehatan tahun 2025, disebutkan bahwa Trump mengalami insufisiensi vena kronis. Kondisi ini, menurut penjelasan resmi, dapat menyebabkan memar ringan—terutama jika dikombinasikan dengan penggunaan aspirin dan aktivitas intens seperti berjabat tangan secara berulang.

Dokter Trump, Kapten Angkatan Laut Sean Barbabella, dalam pemeriksaan April 2025 menyatakan bahwa presiden “tetap dalam kondisi kesehatan yang sangat baik”, dengan fungsi jantung, paru-paru, saraf, dan kondisi umum yang kuat.

Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, bahkan menyebut Trump sebagai “salah satu presiden paling tajam secara mental dan paling aktif dalam sejarah Amerika”, seraya menambahkan bahwa ia bertemu dan berjabat tangan dengan lebih banyak warga setiap hari dibandingkan presiden lainnya.

Kembali mencuat perdebatan mengenai kesehatan Donald Trump yang berusia 79 tahun, di tengah tuntutan para pengkritiknya akan transparansi medis yang lebih besar (Associated Press).

Isu Usia dan Transparansi

Sensitivitas isu ini tidak lepas dari faktor usia. Trump tercatat sebagai presiden tertua saat dilantik dalam sejarah Amerika Serikat. Karena itu, tanda-tanda fisik seperti memar atau pembengkakan sering memicu pertanyaan publik terkait transparansi informasi medis dari pemerintah.

Namun secara hukum, spekulasi semacam itu tidak otomatis membuka akses publik terhadap rekam medis presiden. Meski menjabat sebagai kepala negara, presiden tetap memiliki hak atas privasi medisnya.

Batas Hukum dan Politik

Di sisi lain, kesehatan presiden tetap menjadi perhatian publik ketika berkaitan dengan kemampuannya menjalankan tugas negara. Dalam konteks ini, pertanyaan dari media dan publik dianggap sah secara politik.

Adapun mekanisme pengalihan kekuasaan tidak ditentukan oleh spekulasi atau gambar yang beredar. Konstitusi Amerika mengaturnya melalui Amandemen ke-25, yang memungkinkan presiden menyerahkan sementara kewenangannya, atau memungkinkan wakil presiden bersama mayoritas kabinet menyatakan ketidakmampuan presiden.

Jika terjadi perbedaan pendapat, keputusan akhir berada di tangan Kongres, yang harus menyetujui dengan mayoritas dua pertiga di kedua majelis.

Dengan demikian, foto tangan Trump lebih mencerminkan tekanan politik dan sorotan media ketimbang dasar tindakan konstitusional. Meski tidak cukup untuk mendiagnosis kondisi medis atau mencabut kewenangan presiden, gambar tersebut tetap memicu tuntutan agar Gedung Putih memberikan penjelasan yang lebih transparan kepada publik.

(Samirmusa/arrahmah.id)