Memuat...

Ekonomi Iran Terpuruk Akibat Blokade AS, Inflasi Tembus 73%

Zarah Amala
Kamis, 7 Mei 2026 / 20 Zulkaidah 1447 10:45
Ekonomi Iran Terpuruk Akibat Blokade AS, Inflasi Tembus 73%
Rakyat Iran mengalami kesulitan ekonomi karena nilai mata uang nasional terus terdepresiasi [Getty]

TEHERAN (Arrahmah.id) - Perekonomian Iran dilaporkan mengalami kemerosotan tajam sebagai dampak dari blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat serta penerapan rezim sanksi yang luas. Kondisi ini diperburuk dengan macetnya negosiasi antara Washington dan Teheran serta berlanjutnya penutupan Selat Hormuz.

Departemen Keuangan AS terus memperketat tekanan dengan menambahkan 1.000 individu, kapal, dan pesawat ke dalam daftar sanksi sejak awal 2025. Langkah ini memicu krisis biaya hidup yang berat bagi warga Iran.

Berdasarkan data terbaru, tingkat inflasi umum di Iran diperkirakan mencapai 73,5%, dengan kenaikan harga makanan dan minuman melonjak hingga 115%. Meskipun upah minimum telah dinaikkan sekitar 60% pada Maret lalu, nilainya tetap berada di bawah 170 juta rial atau setara USD 92 (sekitar Rp1,4 juta) per bulan.

Di pasar terbuka, nilai tukar Rial terus melemah hingga menyentuh angka 1,9 juta rial per dolar AS pekan ini. Angka tersebut menunjukkan penyusutan nilai mata uang lebih dari 50% dibandingkan tahun lalu, yang mencerminkan hilangnya kepercayaan publik terhadap mata uang nasional akibat minimnya arus masuk valuta asing.

Blokade Minyak dan Dampak Infrastruktur

Blokade pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan Iran telah memutus ekspor minyak yang merupakan sumber pendapatan utama negara. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa (5/5/2026) menyatakan bahwa blokade ini merugikan Iran hingga USD 500 juta per hari.

"Sanksi AS telah melumpuhkan ekonomi Iran. Departemen Keuangan bekerja untuk mengidentifikasi dan memutus setiap dolar pendapatan yang mengalir ke rezim ini," tegas Rubio.

Di sisi lain, otoritas Iran mencoba menenangkan publik dengan menunjuk rute alternatif melalui jalur darat dan kereta api untuk berdagang dengan negara-negara tetangga. Namun, Gubernur Bank Sentral Abdolnasser Hemmati dilaporkan telah mendesak Presiden Masoud Pezeshkian untuk segera menstabilkan ekonomi, termasuk memulihkan akses internet.

Krisis Digital dan Pengangguran Massal

Pemadaman internet yang berlangsung selama 68 hari menurut data NetBlocks, diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi digital sebesar USD 30 juta hingga USD 80 juta per hari. Sektor e-commerce, logistik, dan teknologi dilaporkan mengalami kelumpuhan total.

Sektor ketenagakerjaan juga menunjukkan potret suram. Lebih dari satu juta orang kehilangan pekerjaan akibat konflik dengan AS-'Israel'. Sebanyak 23.000 pabrik dan perusahaan dilaporkan mengalami kerusakan.

Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, memperkirakan total kerusakan infrastruktur mencapai USD 270 miliar, atau setara dengan 60% PDB Iran.

Data dari platform pencari kerja IranTalent menunjukkan lowongan kerja merosot hingga 80% tahun ini, sementara pengajuan CV di platform JobVision mencatat rekor tertinggi sebanyak 318.000 lamaran dalam satu hari, menandakan tingginya tingkat pengangguran di negara tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)