“Negara adalah saya”
Dalam tulisannya, Landsman menilai bahwa Netanyahu berhasil membangun narasi kekuasaan yang sangat kuat, seolah-olah “negara adalah saya”. Akibatnya, institusi-institusi negara dipandang tidak lagi berdiri sepenuhnya independen, melainkan ikut terikat pada figur dirinya.Ia menilai kondisi ini membuat struktur negara sangat bergantung pada satu sosok, sehingga muncul kekhawatiran bahwa kejatuhan Netanyahu dapat berdampak langsung pada stabilitas “Israel”.

Kritik terhadap institusi dan oposisi
Landsman juga mengkritik lembaga-lembaga negara seperti kepresidenan, Mahkamah Agung, serta kelompok oposisi di “Israel”. Menurutnya, meskipun tampak menentang Netanyahu, mereka justru hanya “membeli waktu” tanpa mampu menyelesaikan krisis yang ada.Ia bahkan menilai bahwa oposisi, meski menentang Netanyahu, tetap menjadi bagian dari sistem yang menopang keberlangsungan negara. Melalui kewajiban seperti pajak, wajib militer, dan dukungan terhadap institusi negara, mereka secara tidak langsung ikut menjaga sistem yang sama.
Gambaran krisis yang lebih dalam
Dalam bagian akhir tulisannya, Landsman menggambarkan “Israel” sebagai negara yang mengalami kerusakan struktural yang mendalam. Ia menggunakan metafora keras, menyebut kondisi tersebut seperti penyakit yang telah menyebar ke seluruh tubuh negara.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak lagi sekadar pergantian pemimpin. Ia meragukan bahwa kepergian Netanyahu akan mampu memperbaiki keadaan, karena krisis yang terjadi sudah terlalu dalam dan bersifat sistemik.
Dengan nada suram, ia menyimpulkan bahwa harapan untuk kembali normal hanyalah ilusi yang terus dipertahankan, sementara realitas menunjukkan arah yang semakin tidak pasti.
(Samirmusa/arrahmah.id)
