Memuat...

Koresponden Haaretz: Netanyahu Akan Pergi, Tapi “Israel” Bisa Ikut Runtuh Bersamanya

Samir Musa
Ahad, 3 Mei 2026 / 16 Zulkaidah 1447 12:38
Koresponden Haaretz: Netanyahu Akan Pergi, Tapi “Israel” Bisa Ikut Runtuh Bersamanya
Landsman: “Prestasi nyata Netanyahu adalah pembongkaran sistematis terhadap ‘Israel’” (Reuters)
TEL AVIV (Arrahmah.id) - Sebuah tulisan opini yang dimuat di surat kabar Hareetz menampilkan pandangan yang sangat pesimistis mengenai masa depan “Israel” di bawah kepemimpinan Perdana Menter Benjamin Netanyahu.Penulis artikel tersebut, Carolina Landsman, menggambarkan bahwa Netanyahu telah membentuk kondisi politik di mana dirinya seolah menyatu dengan negara. Dalam pandangan itu, kepergiannya dari panggung kekuasaan bukan sekadar pergantian pemimpin, tetapi dapat mengguncang fondasi sistem negara.

“Negara adalah saya”

Dalam tulisannya, Landsman menilai bahwa Netanyahu berhasil membangun narasi kekuasaan yang sangat kuat, seolah-olah “negara adalah saya”. Akibatnya, institusi-institusi negara dipandang tidak lagi berdiri sepenuhnya independen, melainkan ikut terikat pada figur dirinya.

Ia menilai kondisi ini membuat struktur negara sangat bergantung pada satu sosok, sehingga muncul kekhawatiran bahwa kejatuhan Netanyahu dapat berdampak langsung pada stabilitas “Israel”.

Netanyahu bersama Menteri Keuangannya yang berhaluan sayap kanan ekstrem, Bezalel Smotrich (Kantor Pers Israel)

Kritik terhadap institusi dan oposisi

Landsman juga mengkritik lembaga-lembaga negara seperti kepresidenan, Mahkamah Agung, serta kelompok oposisi di “Israel”. Menurutnya, meskipun tampak menentang Netanyahu, mereka justru hanya “membeli waktu” tanpa mampu menyelesaikan krisis yang ada.

Ia bahkan menilai bahwa oposisi, meski menentang Netanyahu, tetap menjadi bagian dari sistem yang menopang keberlangsungan negara. Melalui kewajiban seperti pajak, wajib militer, dan dukungan terhadap institusi negara, mereka secara tidak langsung ikut menjaga sistem yang sama.

Gambaran krisis yang lebih dalam


Dalam bagian akhir tulisannya, Landsman menggambarkan “Israel” sebagai negara yang mengalami kerusakan struktural yang mendalam. Ia menggunakan metafora keras, menyebut kondisi tersebut seperti penyakit yang telah menyebar ke seluruh tubuh negara.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak lagi sekadar pergantian pemimpin. Ia meragukan bahwa kepergian Netanyahu akan mampu memperbaiki keadaan, karena krisis yang terjadi sudah terlalu dalam dan bersifat sistemik.

Dengan nada suram, ia menyimpulkan bahwa harapan untuk kembali normal hanyalah ilusi yang terus dipertahankan, sementara realitas menunjukkan arah yang semakin tidak pasti.

(Samirmusa/arrahmah.id)