Memuat...

Putus dari China, Ukraina Diam-Diam Beralih ke Taiwan untuk Senjata Drone

Samir Musa
Kamis, 7 Mei 2026 / 20 Zulkaidah 1447 14:46
Putus dari China, Ukraina Diam-Diam Beralih ke Taiwan untuk Senjata Drone
Tentara Ukraina menyiapkan sebuah drone, dalam perang di mana Kiev berupaya mengurangi ketergantungannya pada komponen asal China (Eropa).

KIEV (Arrahmah.id) – Ukraina terus mempercepat langkah untuk membangun kemandirian dalam industri drone di tengah perang yang masih berlangsung. Negara tersebut kini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mulai mengurangi ketergantungan terhadap komponen asal China yang selama ini mendominasi rantai pasok global.

Dalam laporan harian Inggris The Guardian, Kiev disebut tengah berupaya secara bertahap mengurangi penggunaan komponen China dan mencari alternatif dari negara lain, termasuk Taiwan. Langkah ini mencakup sektor penting seperti elektronik miniatur, sistem navigasi, dan baterai yang menjadi komponen utama drone modern.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa lonjakan produksi drone Ukraina justru membuka tantangan baru berupa tingginya ketergantungan pada komponen China. Di satu sisi, Beijing dituduh—meski membantah—telah membantu Rusia dengan material berpotensi militer. Di sisi lain, dominasi China dalam rantai pasok global membuat Ukraina sulit melepaskan diri sepenuhnya dalam waktu singkat.

Taiwan Muncul Sebagai Alternatif

Dalam situasi tersebut, Taiwan mulai muncul sebagai salah satu alternatif penting dalam rantai pasok teknologi drone Ukraina.

Wilayah tersebut dikenal memiliki keunggulan dalam industri teknologi tinggi, terutama semikonduktor, sistem elektronik, dan integrasi perangkat canggih. Hal ini membuat sejumlah produsen drone Ukraina mulai melirik komponen dari Taiwan sebagai pengganti sebagian pasokan dari China.

Seorang pejabat aliansi internasional di perusahaan Ukraina Vyriy, Bohdan Diurdytsa, mengatakan bahwa penggunaan komponen Taiwan kini bukan hal asing dalam industri drone. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap potensi pembatasan ekspor dari China turut mendorong perusahaan Ukraina mencari sumber alternatif.

Lonjakan Ekspor Taiwan

Data dari Institut DSET Taiwan menunjukkan lonjakan signifikan ekspor drone ke Eropa. Pada 2024, Taiwan mengekspor sekitar 2.574 unit drone, namun angka tersebut melonjak menjadi 107.433 unit pada 2025.

Bahkan pada kuartal pertama 2026 saja, ekspor telah mencapai 136.010 unit, melampaui total tahun sebelumnya. Sebagian besar pengiriman tercatat menuju Polandia dan Republik Ceko, yang diduga menjadi jalur transit menuju Ukraina.

Harga dan Kapasitas Masih Jadi Kendala

Meski dianggap sebagai alternatif yang lebih aman secara geopolitik, penggunaan komponen dari Taiwan masih menghadapi sejumlah tantangan.

The Guardian melaporkan bahwa biaya produksi menjadi salah satu hambatan utama karena lebih mahal dibandingkan komponen China. Selain itu, kapasitas produksi Taiwan juga belum mampu memenuhi kebutuhan Ukraina yang diperkirakan mencapai jutaan unit drone per tahun.

Sejumlah produsen di Taiwan menyebut bahwa meski teknologi mereka diuji coba dan mendapat respons positif, harga masih menjadi penghalang utama dalam adopsi skala besar.

Rantai Pasok Global Belum Terlepas dari China

Hingga kini, Ukraina masih belum dapat sepenuhnya melepaskan diri dari ketergantungan pada China. Beberapa komponen penting seperti baterai lithium, magnet tanah jarang, dan perangkat elektronik tertentu masih sangat bergantung pada rantai pasok China.

Meski demikian, Ukraina terus melakukan diversifikasi dengan menjajaki kerja sama dengan negara lain, termasuk Jepang dan beberapa negara Eropa Timur, untuk memperkuat industri pertahanannya.

Ukraina berupaya untuk melokalisasi industri drone, setelah sebelumnya beralih dari mengimpor model-model buatan China yang siap pakai menjadi merakitnya secara lokal (Eropa).

Perang Drone dan Strategi Bertahan Hidup

Perang yang berkepanjangan telah mengubah arah strategi militer Ukraina. Drone kini bukan lagi sekadar alat pendukung, tetapi menjadi elemen utama dalam operasi tempur modern.

Dalam kondisi ini, Ukraina tidak hanya berperang di garis depan, tetapi juga dalam “perang industri” untuk memastikan rantai pasok teknologi tetap berjalan.

Laporan The Guardian menilai bahwa tren ini membuka peluang kerja sama lebih luas antara Ukraina dan Taiwan, meski tantangan biaya, kapasitas, dan geopolitik masih menjadi penghalang utama.

(Samirmusa/arrahmah.id)