GAZA (Arrahmah.id) - Mantan pemimpin senior Hamas yang juga dikenal sebagai "Dekan Tahanan yang Dibebaskan," Abdul Nasser Issa, kembali mengungkapkan lembaran sejarah penting dalam perjuangan bersenjata Palestina. Dalam bagian kelima kesaksiannya di program Shahid ala al-Asr, Al Jazeera Arabic Issa membedah strategi bawah tanah, hubungan dengan otoritas keamanan, hingga profil para komandan legendaris Brigade Al-Qassam.
Issa menceritakan keberhasilannya menembus sistem keamanan berlapis 'Israel' pada 1994, saat ia menjadi salah satu orang yang paling dicari. Meski berada dalam pengawasan ketat, ia berhasil melakukan perjalanan dari Tepi Barat menuju Jalur Gaza.
Perjalanan ini bukan sekadar upaya meloloskan diri dari kejaran intelijen, melainkan misi krusial untuk menyatukan operasi militer dan transfer keahlian antara Tepi Barat dan Gaza di puncak era operasi istisyhadi (bom syahid).
Pertemuan dengan Sang "Insinyur" dan Komandan Utama
Salah satu momen paling bersejarah dalam kesaksiannya adalah pertemuannya dengan dua sosok yang mengubah arah perjuangan bersenjata Palestina. Issa menggambarkan Ayyash sebagai pribadi yang sangat cerdas, tenang, namun memiliki kapabilitas operasional yang luar biasa saat mengelola jaringan dari jantung Jalur Gaza.
Issa menyoroti peran sentral Deif dalam restrukturisasi Brigade Al-Qassam. Ia menjelaskan bagaimana Deif mentransformasi kelompok-kelompok gerilyawan yang selalu dalam pelarian menjadi organisasi militer yang terstruktur dan sangat rahasia.
"Gaza pada tahun 90-an adalah laboratorium tempat hal-hal yang dianggap mustahil diproduksi. Pertemuan dengan Ayyash dan Deif ibarat menggambar peta jalan bagi kekuatan militer yang kita lihat hari ini," kenang Issa.
Relasi Rumit dengan Otoritas Palestina
Issa juga memberikan gambaran jujur mengenai hubungan antara Brigade Al-Qassam dan aparatur keamanan Otoritas Palestina (PA) saat itu yang disebutnya sangat kompleks. Hubungan ini diwarnai oleh tindakan keras, mulai dari tekanan keamanan hingga penangkapan terhadap kader-kader Hamas.
Meski penuh friksi, Issa mengakui adanya jalur komunikasi tidak resmi di balik layar. Ia menjelaskan bahwa otoritas Palestina berada di bawah tekanan besar akibat kesepakatan Oslo untuk menghentikan operasi militer, sementara di sisi lain, Al-Qassam bersikeras bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya respons terhadap pendudukan yang terus berlangsung.
Kesaksian Issa ini memberikan perspektif mendalam mengenai evolusi militer Hamas, dari kelompok yang bekerja secara sembunyi-sembunyi hingga menjadi kekuatan militer yang secara fundamental mengubah peta konflik di wilayah tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
