DEIR AL-BALAH (Arrahmah.id) - Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan terjadi di Jalur Gaza tengah, di mana seorang ibu terpaksa menunggu selama sembilan hari untuk dapat memakamkan jenazah putranya, Muhammad Abu Khamash, yang gugur akibat tembakan militer 'Israel' di timur Deir al-Balah.
Selama lebih dari sepekan, jenazah Muhammad tergeletak di area terbuka yang dikenal sebagai "Zona Kuning", wilayah di bawah kendali penuh pasukan 'Israel'. Keluarga korban tidak dapat menjangkau lokasi tersebut karena ancaman tembakan terus-menerus dan penolakan akses oleh militer 'Israel'.
Ayah korban, Ouda Abu Khamash, sempat mengungkapkan keputusasaan keluarganya melalui media sosial. Ia menceritakan bagaimana ia telah menggali liang lahat untuk putranya yang hanya berjarak 300 meter dari lokasi jenazah tergeletak. Sementara itu, sang ibu selama berhari-hari terus berdiri di dekat garis pembatas dengan mengibarkan bendera putih, berharap otoritas pendudukan mengizinkannya mengambil jenazah putranya yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental.
Setelah melalui negosiasi yang alot, keluarga akhirnya berhasil mendapatkan koordinasi untuk membawa pulang apa yang tersisa dari Muhammad. Namun, saat diserahkan, kondisi jenazah sudah membusuk dan hanya tersisa tulang-belulang yang dimasukkan ke dalam kantong hitam.
Rekaman video yang didokumentasikan oleh jurnalis lokal, Osama Al-Kahlout, memperlihatkan momen memilukan saat sang ibu menerima kantong jenazah tersebut. Ia tampak memeluk erat sisa-sisa bagian tubuh putranya sebelum membawanya ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha untuk proses pemakaman.
Kisah keluarga Abu Khamash dengan cepat memicu gelombang simpati dan kecaman di media sosial. Para aktivis menyebut insiden ini sebagai salah satu momen paling kejam dalam perang di Gaza. Ramy Abdu, seorang pengamat HAM, menyatakan bahwa adegan tersebut merangkum penderitaan luar biasa yang harus dihadapi ibu-ibu di Gaza akibat genosida yang berlangsung.
Fenomena ini bukanlah kasus terisolasi. Selama perang, banyak keluarga di Gaza terpaksa membiarkan jenazah anggota keluarga mereka tergeletak di zona pertempuran karena tim penyelamat dan ambulans tidak mampu menjangkau lokasi akibat blokade dan ancaman militer.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober lalu, diperkirakan lebih dari 1.000 warga Palestina tewas akibat serangan sporadis dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan. Kasus Muhammad Abu Khamash kini menjadi simbol perjuangan keluarga-keluarga Palestina yang tidak hanya harus menanggung pedihnya kehilangan anak, tetapi juga harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan hak memberi penghormatan terakhir kepada jenazah orang-orang terkasih mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
