TEHERAN (Arrahmah.id) - Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kini merambah sektor ekonomi strategis setelah serangan udara AS dilaporkan menghantam jalur kereta api vital yang menghubungkan Iran dengan Tiongkok. Serangan ini memberikan tekanan tambahan bagi ekonomi Iran yang sudah terbebani oleh dampak perang berkepanjangan.
Jalur kereta api yang menjadi target serangan merupakan rute strategis yang membentang dari Provinsi Golestan di utara Iran, melintasi Turkmenistan dan Kazakhstan, hingga berakhir di kota Horgos, Xinjiang, Tiongkok. Jalur ini selama ini menjadi tumpuan Iran untuk mengimpor barang dan mengekspor komoditas setelah aktivitas di pelabuhan-pelabuhan mereka terhambat.
Iran sebelumnya telah meningkatkan frekuensi perjalanan kereta komersial dengan Tiongkok dari satu kali sepekan menjadi setiap 3-4 hari untuk mengompensasi terhentinya arus logistik via laut. Namun, para ahli menilai jalur darat ini hanya mampu menutupi sebagian kecil kebutuhan perdagangan karena jarak yang jauh, biaya yang tinggi, dan kapasitas angkut yang sangat terbatas. Sebagai mitra dagang utama, Tiongkok tercatat menjadi pasar tujuan bagi ekspor minyak Iran senilai 31,3 miliar dolar AS pada tahun lalu.
Pakar ekonomi Peiman Molavi menyatakan bahwa Iran saat ini terjepit dalam kompetisi kekuatan besar antara AS dan Tiongkok, di mana koridor transportasi menjadi salah satu medan perang utama. Jika Iran kehilangan akses terhadap koridor "Utara-Selatan", sebuah proyek geopolitik sepanjang 7.200 km yang menghubungkan Mumbai (India) hingga St. Petersburg (Rusia), maka potensi pendapatan investasi dan peran strategisnya sebagai titik transit utama akan terancam hilang.
Selain jalur darat, aktivitas di Selat Hormuz juga mengalami kelumpuhan total. Setelah sempat mengalami penurunan drastis dari 33 kapal pada Selasa menjadi hanya 15 kapal pada Kamis, pergerakan lalu lintas laut di selat tersebut dilaporkan berhenti total pada Jumat (10/7/2026) akibat risiko tinggi dari aksi saling serang. Otoritas maritim Inggris telah meningkatkan status bahaya pelayaran di selat tersebut ke level "sangat berbahaya."
Kondisi ini memicu kekhawatiran dari Badan Energi Internasional (IEA). Dalam laporan bulanannya, IEA memperingatkan bahwa konflik yang terus berlanjut ini berpotensi menggagalkan proyeksi pasar minyak dunia yang sebelumnya diprediksi akan mengalami surplus besar pada tahun 2027. Ketidakpastian pasokan akibat terganggunya arus tanker minyak di Selat Hormuz kini mendorong seruan global untuk meningkatkan produksi energi di wilayah lain, termasuk di kawasan Arktik, demi menjaga stabilitas energi dunia. (zarahamala/arrahmah.id)
