GROZNY (Arrahmah.id) -- Seorang perempuan di Republik Chechnya, Rusia, menjadi sorotan setelah tampil di televisi pemerintah dan dipaksa memberikan penjelasan publik atas tuduhan melakukan praktik sihir. Kasus yang terjadi pada Juli 2026 itu kembali memunculkan kritik dari kelompok hak asasi manusia terhadap praktik penghinaan publik yang telah lama digunakan otoritas Chechnya terhadap warga yang dituduh melakukan aktivitas yang dianggap menyimpang dari ajaran agama atau norma sosial setempat.
Diansir OC Media dan SOVA News (22/7/2026), stasiun televisi pemerintah Chechnya, Grozny TV, menayangkan sebuah program yang menampilkan dua perempuan yang dituduh melakukan "witchcraft" atau sihir. Dalam salah satu laporan tersebut, seorang perempuan dituduh menyebabkan seorang pria mengalami stroke melalui praktik ilmu gaib. Tayangan itu juga memperlihatkan sejumlah benda yang diklaim sebagai alat ritual, termasuk foto seorang pria berseragam militer yang diberi simbol-simbol tertentu.
Perempuan yang menjadi sasaran tuduhan itu membantah telah melakukan sihir sebagaimana yang dituduhkan. Dalam tayangan yang disiarkan televisi negara, ia mengakui pernah membaca doa-doa dan melakukan ritual keagamaan, namun menolak tuduhan bahwa dirinya melakukan praktik ilmu hitam. Tayangan tersebut memperlihatkan seorang pria berseragam militer berdiri di sampingnya selama proses "teguran" berlangsung.
"Saya membaca doa dan melakukan amalan keagamaan, tetapi saya tidak melakukan sihir seperti yang dituduhkan kepada saya," ujar perempuan tersebut dalam pernyataan yang dikutip OC Media.
Peristiwa itu bukanlah yang pertama di Chechnya. Dalam beberapa tahun terakhir, televisi pemerintah daerah tersebut berulang kali menayangkan pengakuan atau permintaan maaf publik dari warga yang dituduh melakukan sihir, perdukunan, atau praktik yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam versi otoritas setempat. Kampanye anti-sihir di Chechnya sendiri diketahui dimulai pada 2013 atas inisiatif pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov. Sejak saat itu, puluhan orang dilaporkan ditahan, dipermalukan di depan publik, bahkan sebagian dilaporkan menghilang setelah dituduh terlibat praktik gaib.
Dalam tayangan terbaru tersebut, Adam Elzhurkaev, tokoh yang dikenal sebagai pimpinan Pusat Pengobatan Islam di Chechnya dan kerap terlibat dalam kampanye anti-sihir pemerintah, ikut memberikan teguran kepada perempuan yang dituduh. Ia menyatakan bahwa praktik-praktik semacam itu dianggap berbahaya bagi masyarakat dan bertentangan dengan prinsip agama.
"Kurangnya pemahaman agama yang disertai keyakinan yang berlebihan merupakan kombinasi yang berbahaya," kata Adam Elzhurkaev dalam program yang disiarkan Grozny TV.
Kelompok hak asasi manusia mengecam praktik tersebut karena dianggap sebagai bentuk intimidasi dan penghinaan publik. Organisasi-organisasi HAM internasional sebelumnya telah menyoroti fenomena "permintaan maaf publik" di Chechnya, di mana warga yang dituduh melanggar norma sosial atau mengkritik pemerintah dipaksa tampil di televisi untuk mengakui kesalahan mereka. Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) bahkan pernah menyinggung praktik serupa dalam laporannya mengenai kebebasan sipil di kawasan Kaukasus Utara.
Analis menilai kasus terbaru ini menunjukkan bahwa kampanye anti-sihir yang sempat mereda beberapa tahun terakhir kini kembali menguat di Chechnya. Selain memicu perdebatan mengenai kebebasan individu, peristiwa tersebut juga menyoroti kuatnya kontrol sosial dan peran media pemerintah dalam membentuk opini publik di wilayah yang dipimpin Ramzan Kadyrov tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
