WASHINGTON (Arrahmah.id) – Meski lebih dari enam bulan telah berlalu sejak Kementerian Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen terkait Jeffrey Epstein atas permintaan Kongres, kasus tersebut kembali menjadi sorotan dan memicu gelombang penyelidikan baru.
Menurut laporan Axios yang dikutip Al Jazeera, terdapat sedikitnya tujuh perkembangan penting yang membuat kasus Epstein kembali mendominasi perhatian publik di Amerika Serikat.
1. Senator Republik Mengajukan Syarat untuk Pengangkatan Todd Blanche
Senator Partai Republik Tom Tillis menyatakan tidak akan memberikan suaranya untuk mengesahkan Todd Blanche pada jabatan di Kementerian Kehakiman sebelum ia bertemu dengan para penyintas kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Para penyintas selama ini terus mengkritik cara Departemen Kehakiman menangani penyelidikan kasus Epstein. Pertemuan akhirnya berlangsung pekan lalu, namun mereka menilai pertemuan tersebut hanya bersifat formalitas dan tidak menghasilkan dialog yang substansial.
2. Para Penyintas Melontarkan Kritik Terbuka terhadap Todd Blanche
Kekecewaan para penyintas tidak berhenti pada pertemuan tersebut. Mereka kemudian menyampaikan kritik secara terbuka terhadap Blanche.
Annie Farmer, salah satu korban Epstein dan Ghislaine Maxwell, menyebut Blanche bersikap kasar, arogan, dan tidak memberikan komitmen nyata kepada para penyintas.
Korban lainnya, Dani Pinsky, juga mengatakan di hadapan Kongres bahwa pertemuan tersebut sama sekali tidak produktif dan tidak menyentuh persoalan utama.
3. Perintah Pengadilan untuk Membuka Dokumen Tambahan
Pada akhir Juni, seorang hakim federal memerintahkan Departemen Kehakiman AS untuk membuka dokumen tambahan mengenai penyelidikan Epstein tanpa penyuntingan (redaksi), atau memberikan dasar hukum yang jelas jika menolak melakukannya.
Perintah itu merupakan tindak lanjut dari gugatan yang menilai pemerintah belum sepenuhnya mematuhi undang-undang mengenai keterbukaan dokumen Epstein yang disahkan tahun lalu.
Namun beberapa hari kemudian, Departemen Kehakiman menolak merilis dokumen tambahan dengan alasan seluruh kewajiban hukumnya telah dipenuhi.
4. Penyelidikan Dugaan Hubungan dengan Pemerintah Asing
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jamie Raskin, meluncurkan penyelidikan untuk mengetahui apakah Jeffrey Epstein pernah bertindak sebagai agen asing yang tidak terdaftar.
Raskin menduga Epstein menjalankan aktivitas untuk sejumlah pemerintah asing tanpa mendaftarkan diri sebagaimana diwajibkan hukum Amerika Serikat. Ia juga meminta pemerintah menyerahkan dokumen yang menghubungkan Epstein dengan 19 negara sebelum 3 Agustus mendatang.
5. Wakil Presiden AS Akui Penanganan Dokumen Bermasalah
Dalam wawancara bersama podcaster Joe Rogan, Wakil Presiden AS J.D. Vance mengakui pemerintahan Presiden Donald Trump melakukan kesalahan dalam proses penanganan dan publikasi dokumen Epstein.
Vance mengatakan bahwa kritik masyarakat terhadap cara pemerintah menangani pelepasan dokumen tersebut memang beralasan.
"Kami memang salah menanganinya," ujarnya.
6. Warren Buffett Mengkritik Hubungan Bill Gates dengan Epstein
Dalam perkembangan lain, investor miliarder Warren Buffett menyebut hubungan pendiri Microsoft Bill Gates dengan Jeffrey Epstein sebagai sesuatu yang "menjijikkan" dan "tidak pantas".
Pernyataan itu muncul setelah perusahaan Buffett menghentikan donasi kepada Yayasan Bill Gates untuk pertama kalinya dalam dua dekade.
Hubungan Gates dengan Epstein telah lama menjadi sorotan. Pada 2019, Gates mengaku menyesali pertemuannya dengan Epstein.
7. Yayasan Gates Merampungkan Tinjauan Internal
Yayasan Bill dan Melinda Gates menerbitkan ringkasan hasil evaluasi eksternal mengenai hubungan lembaga tersebut dengan Epstein.
Hasil tinjauan menyatakan tidak ditemukan bukti bahwa yayasan pernah menyalurkan dana kepada Epstein maupun mengetahui aktivitas perdagangan seksual yang dilakukannya.
Meski demikian, yayasan menyampaikan penyesalan mendalam atas interaksi sejumlah pegawainya dengan Epstein pada masa lalu.
Kasus yang Terus Menghantui
Ketujuh perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kasus Jeffrey Epstein masih terus membayangi lembaga-lembaga publik dan sejumlah tokoh berpengaruh di Amerika Serikat.
Kasus ini dinilai menjadi ujian bagi transparansi institusi negara, sekaligus menghidupkan kembali tuntutan agar seluruh fakta diungkap secara terbuka serta memberikan keadilan bagi para penyintas.
Jeffrey Epstein merupakan seorang miliarder dan pengelola keuangan asal Amerika Serikat yang divonis atas berbagai kejahatan seksual. Ia dituduh membangun jaringan perdagangan seksual yang mengeksploitasi gadis-gadis di bawah umur bersama rekan dekatnya, Ghislaine Maxwell.
Kasus tersebut menjadi perhatian dunia karena jaringan pergaulan Epstein mencakup banyak tokoh berpengaruh, mulai dari politisi, kepala negara, pebisnis hingga figur publik.
Pada 2019, Epstein didakwa atas tuduhan perdagangan seksual dan eksploitasi anak di bawah umur. Namun sebelum persidangan berlangsung, ia ditemukan meninggal dunia di sel tahanannya di sebuah penjara federal di New York. Kematian itu secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, meskipun hingga kini masih memunculkan berbagai kontroversi dan teori.
Sementara itu, Ghislaine Maxwell pada 2021 dinyatakan bersalah karena merekrut gadis-gadis di bawah umur untuk dieksploitasi oleh Epstein dan dijatuhi hukuman penjara jangka panjang.
(Samirmusa/arrahmah.id)
