NURISTAN (Arrahmah.id) - Banjir dahsyat yang melanda Parun, ibu kota provinsi Nuristan, telah memicu gelombang reaksi domestik dan internasional.
Mantan Presiden Hamid Karzai, Fasihuddin Fitrat, Kepala Staf Kementerian Pertahanan Imarah Islam, Uni Eropa, duta besar Jepang, Perwakilan Khusus Inggris untuk Afghanistan, dan Kedutaan Besar Iran di Kabul semuanya telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menekankan perlunya dukungan bagi masyarakat yang terkena dampak banjir, lansir Tolo News (22/7/2026).
Kenichi Masamoto, duta besar Jepang untuk Kabul, mengatakan: "Saya sangat sedih atas banjir dahsyat di Nuristan, yang merenggut nyawa dan melukai sejumlah warga Afghanistan. Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada para korban tragedi ini, dan pikiran saya bersama keluarga mereka. Saya sangat berharap agar semua yang terkena dampak segera pulih dan upaya rekonstruksi berjalan dengan cepat."
Kantor Kepala Staf Kementerian Pertahanan menyatakan dalam sebuah pernyataan: "Kantor Kepala Staf, berkoordinasi dengan organisasi terkait, akan mengerahkan segala upaya untuk membantu operasi bantuan, memenuhi kebutuhan mereka yang terdampak, dan mendukung keluarga para korban."
Sementara itu, Departemen Meteorologi Afghanistan telah memperingatkan bahwa hujan lebat, badai petir, angin kencang, dan kemungkinan banjir bandang diperkirakan akan terjadi di delapan provinsi pada Rabu.
Mohammad Nasim Moradi, kepala Departemen Meteorologi di Kementerian Transportasi dan Penerbangan Sipil, mengatakan: "Hujan lebat hingga relatif lebat disertai badai petir dan kemungkinan banjir bandang diperkirakan akan terjadi di sebagian wilayah timur, timur laut, tenggara, dan tengah Afghanistan."
Para ahli mengatakan bahwa untuk mencegah korban jiwa lebih lanjut, peringatan cuaca harus ditanggapi dengan serius, daerah berisiko tinggi harus dievakuasi tepat waktu, dan pihak berwenang terkait harus memperkuat upaya bantuan melalui kesiapan yang lebih besar dan koordinasi yang efektif.
Aktivis lingkungan Abdul Basit Rahimi mengatakan: "Kita tinggal di sepanjang dasar sungai dan jalur banjir, dan kita belum cukup memperhatikan perlindungan hutan. Hal ini, dengan sendirinya, menciptakan kondisi yang meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir."
Afghanistan telah mengalami banjir dahsyat berulang kali dalam beberapa tahun terakhir, bencana yang telah merenggut nyawa setiap tahun dan menyebabkan kerusakan yang meluas.
Menurut angka sementara terbaru, banjir yang melanda Nuristan pada Selasa menewaskan 23 orang, melukai 80 lainnya, dan menyebabkan lebih dari 100 orang hilang. (haninmazaya/arrahmah.id)
