GAZA (Arrahmah.id) -- Militer 'Israel' dilaporkan tengah membangun penghalang tanah raksasa yang membentang di dalam Jalur Gaza dan memisahkan lebih dari separuh wilayah yang kini berada di bawah kendalinya dari area lain yang masih dihuni penduduk Palestina. Temuan ini terungkap melalui analisis citra satelit terbaru yang menunjukkan pembangunan tanggul dan benteng tanah dalam skala besar, memicu kekhawatiran bahwa pembagian wilayah Gaza akan menjadi permanen di tengah konflik yang masih berlangsung.
Dilansir Associated Press (21/7/2026) yang mengutip analisis citra satelit dari Planet Labs PBC, proyek tersebut terlihat membentang dari timur ke barat melintasi bagian tengah Gaza. Struktur tanah itu dibangun di kawasan yang telah dikuasai pasukan 'Israel' selama berbulan-bulan dan menjadi bagian dari jaringan zona militer yang terus diperluas sejak perang pecah setelah serangan Hamas pada Oktober 2023. Penghalang tersebut disebut memisahkan lebih dari 50 persen wilayah Gaza dari area lain yang masih menjadi tempat tinggal sebagian besar warga sipil Palestina.
Pembangunan benteng tanah tersebut berlangsung relatif cepat dan dilakukan secara bertahap. Berdasarkan citra satelit yang dibandingkan dari beberapa pekan terakhir, terlihat adanya pengerukan besar-besaran, pembangunan jalan patroli, serta penimbunan tanah yang membentuk penghalang memanjang. Para analis menilai struktur ini dapat berfungsi sebagai zona keamanan militer sekaligus menghambat pergerakan penduduk dari satu bagian Gaza ke bagian lainnya.
Militer 'Israel' belum memberikan penjelasan rinci mengenai tujuan akhir proyek tersebut. Namun sejumlah pejabat 'Israel' sebelumnya menyatakan bahwa penguasaan wilayah tertentu di Gaza diperlukan untuk mencegah Hamas membangun kembali kemampuan militernya. Pemerintah 'Israel' juga berulang kali menegaskan bahwa operasi militer bertujuan menghancurkan infrastruktur kelompok tersebut dan menjamin keamanan jangka panjang bagi warga 'Israel'.
Di sisi lain, sejumlah pengamat dan organisasi internasional menilai pembangunan penghalang itu dapat memperdalam fragmentasi wilayah Palestina. Direktur Program Israel-Palestina di International Crisis Group, Mairav Zonszein, memperingatkan bahwa pembangunan infrastruktur permanen di wilayah yang diduduki berpotensi mengubah realitas geopolitik Gaza dalam jangka panjang.
"Semakin banyak infrastruktur permanen yang dibangun, semakin muncul pertanyaan apakah ini benar-benar langkah sementara atau bagian dari rencana jangka panjang untuk mengendalikan wilayah tersebut," kata Mairav Zonszein, seperti dikutip Associated Press.
Laporan AP juga menyebutkan bahwa pembangunan penghalang berlangsung ketika kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga bantuan internasional berulang kali memperingatkan bahwa pembatasan akses dan kerusakan infrastruktur telah memperparah krisis pangan, kesehatan, dan pengungsian di wilayah kantong Palestina tersebut.
Sejumlah analis militer Israel berpendapat bahwa benteng tanah itu dapat memberikan keuntungan taktis bagi pasukan 'Israel' dengan menciptakan garis pertahanan baru dan memudahkan pengawasan terhadap pergerakan di dalam Gaza. Namun para kritikus menilai langkah tersebut dapat semakin mempersulit upaya rekonstruksi pascaperang dan mengurangi kemungkinan tercapainya solusi politik yang berkelanjutan.
Hingga kini belum ada kepastian apakah penghalang tersebut akan menjadi batas permanen atau hanya fasilitas militer sementara selama operasi berlangsung. Meski demikian, citra satelit menunjukkan bahwa proyek terus berkembang dengan cepat dan menjadi salah satu perubahan fisik terbesar di Gaza sejak dimulainya perang, menandai semakin dalamnya pemisahan wilayah di enklave Palestina yang telah lama dilanda konflik. (hanoum/arrahmah.id)
