TEHERAN (Arrahmah.id) -- Sebuah kompleks bawah tanah misterius di Iran yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain atau "Gunung Kapak" kembali menjadi sorotan internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerangnya. Lokasi yang berada di dekat fasilitas nuklir Natanz itu diyakini menjadi salah satu proyek nuklir paling terlindungi milik Iran dan disebut-sebut sebagai tempat penyimpanan sentrifugal pengayaan uranium yang sulit dijangkau oleh senjata konvensional.
Pickaxe Mountain, yang dalam bahasa Persia dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, terletak sekitar 220 kilometer di selatan Teheran dan hanya berjarak sekitar dua kilometer dari kompleks nuklir Natanz. Proyek pembangunan fasilitas bawah tanah tersebut dilaporkan dimulai sekitar 2020 setelah serangkaian serangan dan aksi sabotase yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Sejak itu, aktivitas penggalian dan pembangunan terowongan di kawasan pegunungan tersebut terus meningkat.
Menurut laporan Associated Press (22/7/2026), kompleks itu dibangun jauh di bawah lapisan batu pegunungan dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai lebih dari 100 meter. Kedalaman tersebut membuatnya jauh lebih sulit dihancurkan dibanding fasilitas nuklir Iran lainnya, termasuk Fordow yang sebelumnya menjadi sasaran serangan Amerika Serikat. Para ahli menilai bahkan bom penghancur bunker terbesar milik AS, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, belum tentu mampu menghancurkan seluruh bagian fasilitas tersebut dalam satu serangan.
Ketegangan meningkat setelah Trump dalam beberapa pernyataan publik menyebut Pickaxe Mountain sebagai target potensial jika konflik dengan Iran terus memburuk. Trump menegaskan bahwa fasilitas tersebut berada dalam pengawasan Washington.
"Kami akan menghancurkan Pickaxe Mountain. Katakan kepada Iran untuk bersiap," kata Donald Trump.
Pernyataan itu muncul setelah laporan intelijen 'Israel' menyebut Iran diduga telah memindahkan ribuan sentrifugal pengayaan uranium ke dalam terowongan di bawah gunung tersebut. Menurut informasi yang disampaikan kepada pejabat Amerika Serikat, pemindahan itu dilakukan setelah sejumlah fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan akibat konflik dan serangan sebelumnya. Meski demikian, hingga kini belum ada bukti publik yang menunjukkan bahwa fasilitas tersebut telah digunakan secara aktif untuk pengayaan uranium.
Iran sendiri membantah tuduhan bahwa fasilitas itu digunakan untuk program senjata nuklir. Pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk kebutuhan energi sipil. Namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengakui belum pernah memperoleh akses langsung ke kompleks Pickaxe Mountain sehingga tidak dapat memverifikasi aktivitas yang berlangsung di dalamnya.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi sebelumnya juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai minimnya transparansi terhadap lokasi tersebut. Ketidakmampuan inspektur internasional mengakses fasilitas itu membuat berbagai spekulasi mengenai fungsi sebenarnya terus berkembang di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan 'Israel'.
Sejumlah pakar keamanan menilai ancaman terhadap Pickaxe Mountain bukan hanya persoalan militer, tetapi juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Serangan terhadap fasilitas tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik regional, mengganggu pasar energi global, serta memperburuk hubungan antara Iran dan negara-negara Barat. Karena itu, Gunung Kapak kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam krisis nuklir Iran yang kembali memanas sepanjang 2026. (hanoum/arrahmah.id)
