GAZA (Arrahmah.id) - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pada Jumat (28/11/2025) bahwa 50 negara dan organisasi internasional kini terwakili di Pusat Koordinasi Sipil-Militer yang didirikan Washington di Israel selatan untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata di Gaza.
Pernyataan tersebut dipublikasikan CENTCOM di X, menyebutkan bahwa setelah satu bulan beroperasi penuh, pusat koordinasi yang dipimpin AS itu kini meluas mencakup perwakilan dari 50 negara mitra dan organisasi internasional.
Komandan CENTCOM mengatakan bahwa kesempatan ini merupakan “momen bersejarah” untuk mencapai perdamaian permanen di Timur Tengah. Ia menyampaikan penghargaan kepada para mitra internasional dan menegaskan bahwa kemajuan telah dicapai, namun keberhasilan pelaksanaan rencana perdamaian membutuhkan kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya.
CENTCOM menjelaskan bahwa pusat koordinasi tersebut telah memfasilitasi pergerakan lebih dari 24.000 truk bantuan kemanusiaan dan barang komersial ke Gaza selama lima pekan terakhir.
Namun, klaim CENTCOM mengenai volume bantuan bertentangan dengan realitas kemanusiaan di Gaza serta data resmi dari Pemerintah Gaza, yang menegaskan bahwa kebijakan kelaparan yang disengaja masih berlangsung.
Menurut pernyataan dari Kantor Media Pemerintah di Gaza pada Senin lalu (24/11), jumlah bantuan yang diizinkan 'Israel' masuk tidak melebihi 200 truk per hari, dari total 600 truk yang disepakati.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebutkan bahwa upaya terus dilakukan untuk mengirimkan pasokan kemanusiaan yang diperlukan menghadapi musim dingin, serta membersihkan bahan peledak yang belum meledak di sepanjang jalur logistik penting di Gaza, demi meningkatkan keselamatan.
Pusat koordinasi tersebut juga disebut telah membantu mengevakuasi lebih dari 1.500 warga sipil Gaza yang memiliki kewarganegaraan ganda atau membutuhkan perawatan medis.
Menurut CENTCOM, pusat tersebut merupakan fasilitas utama untuk koordinasi bantuan ke Gaza, yang didirikan pada 17 Oktober lalu, lima hari setelah para pemimpin dunia menandatangani rencana yang dimediasi AS untuk mengakhiri perang secara permanen.
Pusat ini mulai beroperasi penuh pada 24 Oktober, setelah kedatangan staf internasional di markasnya di Kiryat Gat, 'Israel' selatan.
Tahap pertama gencatan senjata yang dipantau pusat tersebut mulai berlaku pada 10 Oktober, yang mencakup penghentian perang, pertukaran tahanan, serta masuknya bantuan segera ke Gaza.
Sementara tahap kedua Rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza mencakup pembentukan kekuatan internasional penjaga perdamaian di Gaza, penarikan tentara 'Israel', dan pelucutan senjata Hamas. (zarahamala/arrahmah.id)
