Memuat...

20 Bulan Trump di Gedung Putih, Amerika Disebut Makin Hancur: Ini Peringatannya

Samir Musa
Kamis, 10 September 2026 / 29 Rabiulawal 1448 21:34
20 Bulan Trump di Gedung Putih, Amerika Disebut Makin Hancur: Ini Peringatannya
Penulis Amerika: Trump telah sangat merugikan Amerika setelah memperluas kewenangan eksekutifnya dengan mengorbankan lembaga-lembaga lainnya.(EPA)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Amerika Serikat menghadapi polarisasi politik yang semakin tajam di tengah meningkatnya perdebatan mengenai dampak kebijakan Presiden Donald Trump terhadap institusi konstitusional, ekonomi, dan hubungan luar negeri.

Dalam artikel opini yang diterbitkan The Hill  (10/9/2026), penulis Amerika Serikat Harlan Ullman menilai Trump telah menimbulkan kerugian besar bagi Amerika selama 20 bulan terakhir dengan memperluas kewenangan eksekutif dan mengorbankan keseimbangan kekuasaan antarlembaga pemerintahan.

Ullman menilai Kongres kini semakin terbatas dalam menjalankan kewenangannya, sementara perintah eksekutif menjadi instrumen utama Trump dalam mengelola pemerintahan. Ia menyebut Trump telah mengeluarkan 279 perintah eksekutif sejak kembali ke Gedung Putih pada awal 2025.

Kebijakan tarif Trump juga menjadi sorotan. Ullman menilai kebijakan tersebut membebani keluarga Amerika sekaligus memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global. Ia juga menyoroti dibukanya front perdagangan dengan Kanada.

Perluasan kekuasaan

Ullman kemudian menyoroti sejumlah langkah pemerintahan Trump yang menurutnya menunjukkan semakin luasnya kekuasaan presiden.

Di antaranya adalah upaya membatasi hak kewarganegaraan berdasarkan kelahiran serta pembongkaran Sayap Timur Gedung Putih untuk membangun sebuah ruang pesta.

Menurut Ullman, langkah-langkah tersebut mencerminkan perluasan kekuasaan eksekutif yang tidak biasa dalam sejarah Amerika Serikat.

Ia juga memperingatkan semakin tajamnya perpecahan politik di dalam negeri. Menurutnya, Partai Demokrat dan Republik semakin memperlakukan lawan politik bukan sekadar sebagai pesaing, tetapi sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Ullman menggambarkan tingkat perpecahan tersebut sebagai salah satu yang terburuk sejak Perang Saudara Amerika (1861-1865) dan Perang Vietnam (1955-1975).

Dugaan konflik kepentingan

Selain persoalan kekuasaan, Ullman mempertanyakan perkembangan kekayaan Trump dan keluarganya melalui bisnis mata uang kripto serta hubungan mereka dengan investor asing.

Ia juga menyoroti keuntungan yang diperoleh anggota keluarga presiden melalui berbagai bisnis dan kontrak yang berkaitan dengan pemerintah, termasuk kontrak dengan Departemen Pertahanan.

Menurut Ullman, berbagai aktivitas tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai potensi konflik kepentingan antara kepentingan pribadi keluarga presiden dan kepentingan negara.

Hubungan dengan sekutu melemah

Dalam kebijakan luar negeri, Ullman menilai Trump telah menjauh dari tradisi Amerika yang selama puluhan tahun menempatkan hubungan dengan sekutu dan mitra sebagai bagian penting dari strategi global Washington.

Ia mengkritik tekanan Trump terhadap anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), termasuk penarikan atau penempatan kembali pasukan Amerika dari sejumlah negara anggota aliansi.

Gagasan Trump untuk menguasai Greenland juga disebut sebagai bagian dari kebijakan yang menurut Ullman berpotensi merusak hubungan Amerika dengan sekutunya.

Ia menilai kebijakan tersebut telah melemahkan aliansi Barat.

Pada saat yang sama, pendekatan Trump terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai justru memperkuat posisi Rusia. Ullman juga menyoroti berkurangnya dukungan Amerika terhadap Ukraina serta memperingatkan konsekuensi dari semakin dekatnya hubungan dengan Korea Utara.

Peringatan soal perang Iran

Peringatan paling serius Ullman diarahkan pada perang Amerika Serikat terhadap Iran.

Ia memperkirakan konflik tersebut, jika terus berlangsung, dapat berkembang menjadi krisis yang biaya dan dampaknya melampaui Perang Vietnam, Perang Irak, dan Perang Afghanistan.

Karena itu, Ullman menyerukan langkah diplomatik segera untuk mencegah konflik tersebut semakin meluas.

Menurutnya, tanpa perubahan arah kebijakan, berbagai keputusan pemerintahan Trump selama 20 bulan terakhir bukan hanya akan berdampak terhadap pemerintahan saat ini, tetapi juga dapat meninggalkan kerusakan jangka panjang terhadap institusi, ekonomi, aliansi, dan posisi Amerika Serikat di dunia.

(Samirmusa/arrahmah.id)